Solomon Consulting Group

 

Peraturan Akuntansi

Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik - Industri Perdagangan

 

Pedoman Penyajian dan Pengungkapan

Laporan Keuangan

Emiten atau Perusahaan Publik

 

Industri Perdagangan

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang
   
 

Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna.

   
 

Suatu laporan keuangan bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna apabila informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dapat dipahami, relevan, andal dan dapat diperbandingkan. Namun demikian, perlu disadari bahwa laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi. Secara umum, laporan keuangan menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan.

   
 

Dalam rangka penyajian laporan keuangan emiten, salah satu pihak pengguna laporan yang harus dipertimbangkan adalah investor. Investor dan manajer investasi. Pihak-pihak tersebut membutuhkan informasi dalam pengambilan keputusan untuk membeli, menahan atau menjual investasi serta menilaikemampuan emiten untuk membayar dividen. Sementara itu, akses yang dimiliki oleh pihak-pihak tersebut terbatas untuk memperoleh informasi yang relevan untuk kepentingan tersebut.

   
 

Dalam kaitan ini, investor dan manajer investasi mempunyai ekspektasi yang sangat tinggi bahwa laporan keuangan emiten  menyediakan informasi yang mereka butuhkan. Ekspektasi ini tercermin dalam hasil survey yang dilakukan BEJ kepada 55 pengguna laporan keuangan emiten tahun 1997 yang diwakili oleh manajer investasi. Kesimpulan umum dari hasil survey tersebut adalah :

   
  1)  Laporan keuangan merupakan salah satu informasi yang sangat penting untuk pengambilan keputusan investasi.
     
  2) Laporan keuangan belum sepenuhnya mengungkapkan informasi keuangan emiten secara transparan
     
 

Dalam rangka meningkatkan kualitas dan transparansi informasi dalam laporan keuangan Emiten atau Perusahaan Publik dan memenuhi ekspektasi para pengguna laporan keuangan, maka perlu disusun suatu pedoman penyajian dan pengungkapan laporan keuangan ini. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan panduan untuk menyajikan laporan keuangan yang berkualitas dan transparan.


B. 

Tujuan dan Ruang Lingkup

   
 

Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten dimaksudkan untuk memberikan suatu panduan penyajian dan pengungkapan yang terstandarisasi dengan mendasarkan pada prinsip-prinsip pengungkapan penuh (full disclosure), sehingga dapat memberikan kualitas penyajian dan pengungkapan yang memadai bagi pengguna informasi yang disajikan dalam pelaporan keuangan emiten. Laporan keuangan harus cukup penting untuk mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang pemakai yang berpengetahuan. Prinsip pengungkapan penuh (full disclosure) mengakui bahwa penyajian jumlah dan sifat informasi dalam laporan keuangan harus memenuhi kaidah keseimbangan antara biaya dan manfaat. Penyusunan pedoman ini sejalan dengan tujuan pelaporan keuangan yaitu:

   
  1. 

Pengambilan Keputusan Investasi dan Kredit

     
   

Laporan keuangan bertujuan menyediakan informasi yang bermanfaat bagi investor, calon investor dan kreditur dalam pengambilan keputusan yang rasional atas investasi dan kredit yang dilakukan. Informasi harus dapat dipahami oleh pelaku bisnis dan ekonomi yang mencermati informasi yang disajikan dengan seksama.

    a. Pihak investor meliputi:
      1) Pemegang efek ekuitas
      2) Pemegang efek hutang
    b. Pihak kreditur meliputi:
      1) Pemasok
      2) Konsumen dan karyawan yang memiliki klaim atas perusahaan
      3) Lembaga pemberi pinjaman
      4) Pemberi pinjaman individual
      5) Pemegang efek hutang
         
  2.

Menilai Prospek Arus Kas

     
   

Pelaporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi yang dapat mendukung investor, kreditor dan pihak-pihak lain dalam memperkirakan jumlah, saat dan ketidakpastian dalam penerimaan kas di masa depan atas dividen, bunga dan hasil dari penjualan, pelunasan (redemption) dan jatuh tempo dari efek atau pinjaman. Prospek penerimaan kas tersebut sangat tergantung dari kemampuan perusahaan untuk menghasilkan kas guna memenuhi kewajibannya yang telah jatuh tempo, kebutuhan operasional, reinvestasi dalam operasi, serta pembayaran dividen. Persepsi investor dan kreditor atas kemampuan perusahaan tersebut akan mempengaruhi harga pasar efek perusahaan yang bersangkutan. Persepsi investor dan kreditor dipengaruhi oleh harapan mereka atas tingkat pengembalian dan risiko dari dana yang mereka tanamkan. Investor dan kreditor akan memaksimalkan pengembalian dana yang telah mereka tanamkan dan akan melakukan penyesuaian terhadap risiko yang mereka persepsikan atas perusahaan yang bersangkutan.

     
  3

Informasi atas Sumber Daya Perusahaan, Klaim atas Sumber Daya Tersebut Serta Perubahannya

     
        Pelaporan keuangan bertujuan memberikan informasi tentang sumberdaya ekonomis perusahaan, kewajiban perusahaan untuk mengalihkan sumberdaya tersebut kepada entitas lain atau pemilik saham, dampak transaksi dan peristiwa yang mempengaruhi perubahan sumberdaya tersebut.
         
     Pedoman ini menetapkan bentuk, isi dan persyaratan dalam penyajian dan pengungkapan laporan keuangan Emiten atau  Perusahaan Publik yang harus disampaikan, baik untuk keperluan penyampaian kepada masyarakat maupun kepada Bapepam dan Bursa Efek.
     
    Dengan adanya Pedoman ini, pemahaman dan daya banding laporan keuangan akan semakin meningkat karena laporan keuangan disajikan dalam format yang seragam dan menggunakan deskripsi yang sama untuk pos-pos sejenis.
     
    Pedoman ini merupakan acuan minimum yang harus dipenuhi oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam menyusun laporan keuangan, baik laporan keuangan interim maupun tahunan. Oleh karena itu, keseragaman penyajian sebagaimana diatur dalam Pedoman ini tidak menghalangi Emiten atau Perusahaan Publik untuk memberikan informasi yang relevan bagi pengguna laporan sesuai kondisi masingmasing Emiten atau Perusahaan Publik.

 

C.  Acuan Penyusunan
   
  Pemilihan acuan yang digunakan dalam menyusun pedoman untuk industri perdagangan didasarkan pada acuan-acuan yang relevan dengan industri perdagangan. Adapun acuan-acuan tersebut adalah:
  1.  Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) yang berhubungan dengan akuntansi dan laporan keuangan
  2.

Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Pernyataan StandarAkuntansi Keuangan (ISAK).

  3. International Accounting Standard (IAS).
  4. Peraturan perundang-undangan yang relevan dengan laporan keuangan.
  5. Praktek-praktek akuntansi yang berlaku umum, kesepakatan antar negara, kebiasaan industri yang baru, dan standar akuntansi negara lain.
     
  Dalam hal terdapat perbedaan antara peraturan Bapepam dan PSAK dalam penyusunan laporan keuangan, maka acuan yang digunakan adalah peraturan Bapepam.

 

D.  Lingkup Pedoman
   
  Pedoman ini dibuat untuk emiten yang aktivitas utamanya adalah industri perdagangan dengan asumsi bahwa emiten tersebut  tidak mempunyai anak perusahaan yang dikonsolidasikan. Apabila emiten memiliki anak perusahaan yang harus dikonsolidasikan, Pedoman ini harus digunakan bersama dengan Pedoman Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Perusahaan Investasi.

 

BAB  II

KARAKTERISTIK USAHA INDUSTRI  PERDAGANGAN

 

A.  Gambaran Umum Aktivitas Industri Perdagangan
   
   Dari segi lingkup dan aktivitas industri perdagangan  dewasa ini mencakup berbagai jenis usaha, antara lain yaitu :
   1.  Pasar swalayan
      2. Jasa distribusi produk, baik berupa obat-obatan/Farmasi, piranti keras dan piranti lunak dan jasa-jasa terkait di bidang komputer (Distributor)
  3. Bidang usaha sistem pengemasan
  4. Bidang perdagangan alat berat dan pelayanan purna jual
  5. Perdagangan eceran konpeksi
  6. Perdagangan umum
  7. Peragenan dan/atau perwakilan

 

         Karakteristik yang menonjol dari kegiatan perusahaan pada industri perdagangan adalah melakukan jasa distribusi produk baik barang eceran maupun non-eceran. Oleh karena itu aktivitas perusahaan yang tergolong dalam kelompok industri perdagangan mencakup kegiatan utama:
  1.  Kegiatan menyediakan berbagai jenis barang/produk;
  2. Pemilihan lokasi toko;
  3. Merchandising (Tim pembelian barang dan Tim perencanaan dan pengendalian Barang);
  4. Kegiatan penyaluran barang (Distribution Operation);
  5. Sistem Informasi Manajemen;
  6. Kegiatan Operasi Toko (Store Operation);
  7. Kegiatan Pengembangan Toko (Store Development);
  8. Kegiatan Pengemasan, untuk kebutuhan lokal dan export;
  9. Kegiatan pemasaran;
  10.  Kegiatan Investasi pada anak perusahaan;
  11. Perdagangan Alat berat dan suku cadang;
  12. Pelayanan purna jual;
  13. Kontrak jasa, perawatan dan perbaikan;
  14. Kegiatan evaluasi dan perjanjian dengan distributor.
     
  Kegiatan  utama  akan  tercermin  dalam  penyajian  dan  pengungkapan  laporan keuangan perusahaan pada industri perdagangan.
   
  Kriteria perusahaan yang bertindak sebagai agen:
   
  (1) Jika peran perantara dibatasi untuk menempatkan atau memperoleh kembali piutang kepada debitur tanpa menghadapi resiko, hal tersebut mengindikasikan bahwa perantara adalah agen.
     
  (2) Jika penempatan dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama untuk menjalakan usaha terbaik, hal itu mengindikasikan bahwa perantara bertindak sebagai agen.
     
  (3) Jika debitur sebagai perantara langsung dan perantara tidak bebas menukar atau memodifikasi instrumen hutang, hal tersebut mengindikasikan bahwa perantara adalah agen.
     
  (4) Jika hanya kompensasi yang diperoleh perantara dari kesepakatan dengan debitur dibatasi pada pembayaran awal, hal ini mengindikasikan bahwa perantara adalah agen.
     
    Kriteria perusahaan sebagai principal :
     
  (1) Jika perantara menempatkan dan memperoleh kembali piutang dari debitur dengan komitmen dana dan hal-hal yang berhubungan dengan resiko kerugian dari dana tersebut, hal itu mengindikasikan bahwa perantara bertindak sebagai principal.
     
  (2) Perantara mungkin bertindak sebagai principal jika penempatan dilakukan berdasarkan komitmen yang pasti, yang  mensyaratkan  perantara untuk memegang setiap hutang yang tidak memungkinkannya untuk mengalihkan ke pihak lain.
     
  (3) Perantara mungkin sebagai principal bila perantara mensyaratkan hutang dari atau menukarkan hutang dengan pemegang hutang lainnya di pasar dan hal-hal mengenai kerugian akibat dari transaksi tersebut.
     
  (4) Jika perantara memperoleh keuntungan berdasarkan dari nilai efek yang dikeluarkan oleh debitur, hal tersebut mengindikasikan bahwa perantara adalah principal.

 

B.  Risiko Industri
   
  Resiko yang melekat pada perusahaan dalam kelompok industri perdagangan tidak terlepas dari karakteristik utama kegiatan perusahaan yaitu kegiatan penyediakan barang/produk, kegiatan mendistribusikan barang dan memasarkan produk atau barang.
   
  Oleh karena itu, resiko-resiko yang melekat pada industri perdagangan adalah sebagai berikut :
   
   1. 

Resiko Pencabutan Penunjukan sebagai distributor tunggal (Exclusive Distributorship)

     

  Sebagai distributor yang ditunjuk oleh beberapa Prinsipal luar negeri, maka resiko  terjadinya  pencabutan  pemberian  hak sebagai  distributor apabila perseroan tidak dapat memenuhi kewajiban yang disyaratkan dalam perjanjian, khususnya dalam pencapaian target penjualan seperti yang telah disepakati oleh prinsipal.
     
  2. Resiko berfluktuasinya nilai tukar rupiah.
     
    Berfluktuasinya nilai tukar rupiah dapat dilihat dari dua sisi yaitu :
    a.  Depresiasi rupiah berakibat buruk bagi perusahaan yang penjualannya mengandalkan pasar lokal dan tergantung pada persediaan impor. Meningkatnya harga jual produk jadi yang melebihi daya beli masyarakat akan berakibat menurunnya penjualan perusahaan. Pada  sisi lain, depresiasi rupiah menguntungkan perusahaan yang mengandalkan pasar ekspor dan tergantung pada persediaan yang pengadaannya dalam nilai tukar rupiah.
    b. Apresiasi rupiah pada sisi sebaliknya, berpengaruh negatif terhadap perusahaan yang mengandalkan penjualannya pada pasar ekspor.
       
  3. Resiko Persaingan
     
    Dengan banyaknya pesaing pada bidang usaha ini dapat mengurangi pangsa pasar Perseroan, yang pada akhirnya dapat mengurangi pendapatan Perseroan.
  4. Resiko Kebijakan Pemerintah
     
    Perubahan kebijakan-kebijakan ekonomi Pemerintah dari waktu ke waktu yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional dapat mempengaruhi kegiatan usaha Perseroan.
     
  5. Resiko Pemasok
     
    Ketergantungan pada beberapa pemasok tertentu yang menyebabkan keterbatan ruang gerak usaha Perseroan dapat mempengaruhi kelancaran usaha Perseroan, yang pada akhirnya dapat mengurangi pendapatan Perseroan.
     
  6. Resiko Kebakaran
     
    Apabila terjadinya musibah kebakaran pada salah satu toko/cabang yang dikelola oleh perseroan atau ditempat dimana toko Perseroan berada, maka dapat mengurangi pendapatan Perseroan dari toko tersebut.
     
  7. Resiko Investasi Pada Anak Perusahaan
     
    Dengan melakukan investasi pada anak perusahaan, Perseroan memiliki resiko ketergantungan yang cukup tinggi terhadap kegiatan dan pendapatan usaha dari anak perusahaan. Dengan demikian apabila kegiatan dan pendapatan usaha anak perusahaan menurun, hal tersebut dapat mengurangi pendapatan Perseroan.
     
  8. Risiko Leverage
     
    (Leverage Risk) yaitu risiko-risiko yang terkait pada kewajiban perusahaan karena pendanaan yang berasal dari luar perusahaan (external financing)
     
  9. Risiko Pemasaran
     
    Meliputi antara lain tidak terjualnya barang dagangan, kerusakan dan kehilangan pada jalur distribusi dan pemasaran, habisnya daur hidup produk.
     
  10.  Risiko Kapasitas yang Menganggur
     
    Yakni risiko penggunaan sumber daya tidak pada kapasitasnya, misalnya penggunaan luas toko yang berlebihan.
     
  11. Resiko-resiko lain seperti :
    mode/trend, klaim asuransi, kemampuan untuk mengelola Program expansi, tenaga kerja, teknologi, tak tercapainya proyeksi, distribusi.

 

BAB III

PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN

INDUSTRI PERDAGANGAN

 

A.  Pedoman Umum
   
  1.  Tujuan Laporan Keuangan
     
   

Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, perubahan ekuitas dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.

     
  2. Tanggung Jawab atas Laporan Keuangan
     
    Manajemen Emiten atau Perusahaan Publik bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan.
     
  3. Komponen Laporan Keuangan
     
    Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari: Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan.
     
  4. Bahasa Laporan Keuangan
     
    Laporan keuangan harus dibuat dalam bahasa Indonesia. Jika laporan keuangan juga dibuat selain dalam bahasa Indonesia, maka laporan keuangan tersebut harus memuat informasi yang sama. Dalam hal terdapat perbedaan penafsiran akibat penerjemahan bahasa, maka yang digunakan  sebagai  acuan  adalah  laporan  keuangan  dalam  bahasa Indonesia.
     
  5. Mata Uang Pelaporan
     
    Mata uang pelaporan perusahaan Indonesia adalah Rupiah. Perusahaan dapat menggunakan mata uang lain selain rupiah sebagai mata uang pelaporan hanya apabila mata uang tersebut memenuhi kriteria mata uang fungsional. 
     
  6. Periode Pelaporan
     
 
Tahun buku perusahaan mencakup periode satu tahun. Apabila, dalam keadaan luar biasa,  tahun buku perusahaan berubah dan laporan keuangan disajikan untuk periode yang lebih panjang atau pendek dari periode satu tahun maka sebagai tambahan terhadap periode cakupan laporan keuangan, perusahaan harus mengungkapkan:
 
a.  alasan perubahan tahun buku 
    b. alasan penggunaan tahun buku yang lebih panjang atau pendek dari periode satu tahun; dan 
    c. fakta bahwa jumlah komparatif dalam laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan.
       
  7. Penyajian Secara Wajar
     
    a. Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, perubahan ekuitas, dan arus kas perusahaan dengan disertai pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan, sesuai dengan PSAK. 
    b. Informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan sesuai dengan ketentuan Bapepam dan Bursa Efek Jakarta yang terkait dengan laporan keuangan, serta yang sesuai dengan praktek akuntansi yang lazim berlaku di pasar modal tetap dilakukan untuk menghasilkan penyajian yang wajar walaupun pengungkapan tersebut tidak diharuskan oleh PSAK.
    c. Penyajian aktiva lancar terpisah dari aktiva tidak lancar dan kewajiban lancar terpisah dari kewajiban tidak lancar. Aktiva lancar disajikan menurut urutan likuiditas, sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh temponya. Saldo transaksi sehubungan dengan kegiatan operasi normal perusahaan, disajikan pada neraca secara terpisah antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa dengan pihak ketiga pada masing-masing akun. 
    d. Saldo transaksi sehubungan dengan kegiatan operasi normal perusahaan, disajikan pada neraca secara terpisah antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa dengan pihak ketiga pada masing-masing akun. 
    e. Laporan laba rugi perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur kinerja keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Perusahaan menyajikan di laporan laba rugi rincian beban dengan menggunakan klasifikasi yang didasarkan pada fungsi beban di dalam perusahaan, pada catatan atas LK diungkapkan rincian beban menurut sifat. 
    f.

Setiap komponen laporan keuangan harus diidentifikasi secara jelas. Di samping itu, informasi berikut ini disajikan dan diulangi pada setiap halaman laporan keuangan:

       
   
1)  Nama perusahaan pelapor atau identitas lain;
      2) Cakupan laporan keuangan, apakah mencakup hanya satu entitas atau beberapa entitas;
      3) Tanggal atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan, mana yang lebih tepat bagi setiap komponen laporan keuangan; 
      4) Mata uang pelaporan; dan 
      5) Satuan angka yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan. 
         
    g. Laporan Arus Kas harus disajikan dengan menggunakan metode langsung (direct method).
    h. Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan, yang sifatnya memberikan penjelasan baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif terhadap laporan keuangan, sehingga menghasilkan penyajian yang wajar.
    i. Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian sesuai dengan komponen utamanya. Setiap pos dalam Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Laporan Arus Kas harus direferensi silang (cross-reference) dengan informasi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan, jika dilakukan pengungkapan.
    j.

Pengungkapan dengan menggunakan kata "sebagian" tidak diperkenankan untuk menjelaskan adanya bagian dari suatu jumlah. Pengungkapan hal tersebut harus dilakukan dengan mencantumkan jumlah atau persentase.

    k.

Perubahan  Akuntansi dan Kesalahan Mendasar harus diperlakukan sebagai berikut :

       
      1) Perubahan estimasi akuntansi
         

      Suatu estimasi direvisi jika terjadi perubahan kondisi yang mendasari estimasi tersebut, atau karena adanya informasi baru, bertambahnya pengalaman atau perkembangan lebih lanjut. Dampak perubahan ini harus diperlakukan secara prospektif.
         
      2) Perubahan Kebijakan Akuntansi
         
        Perubahan kebijakan akuntansi dilakukan hanya jika penerapan suatu kebijakan akuntansi yang berbeda diwajibkan oleh peraturan perundangan atau standar akuntansi keuangan yang berlaku, atau jika diperkirakan bahwa perubahan tersebut akan menghasilkan penyajian kejadian atau transaksi yang lebih sesuai dalam laporan keuangan suatu perusahaan.
      3) Kesalahan Mendasar 
         
        Kesalahan mendasar mungkin timbul dari kesalahan perhitungan matematis, kesalahan dalam penerapan kebijakan akuntansi, kesalahan interpretasi fakta dan kecurangan atau kelalaian. 
         
      Dampak perubahan kebijakan akuntansi atau koreksi atas kesalahan mendasar harus diperlakukan secara  retrospektif dengan melakukan penyajian kembali (restatement) untuk periode yang telah disajikan sebelumnya dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian sebagai suatu penyesuaian pada saldo laba awal periode. Pengecualian dilakukan apabila dianggap tidak praktis atau secara khusus diatur lain dalam ketentuan masa transisi penerapan standar akuntansi keuangan baru. 
    l.

Bila perusahaan melakukan penyajian kembali (restatement) laporan keuangan yang telah diterbitkan sebelumnya, maka penyajian kembali tersebut berikut nomor catatan atas laporan keuangan yang mengungkapkannya harus disebutkan pada neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas yang mengalami perubahan.

    m. Pada setiap halaman neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas harus diberi pernyataan bahwa “catatan atas laporan keuangan merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan keuangan”.
    n. Catatan atas Laporan Keuangan harus mengungkapkan secara terpisah jumlah dari setiap jenis transaksi dan saldo dengan para direktur, pegawai, komisaris, pemegang saham utama, karyawan kunci dan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Ikhtisar terpisah tersebut diperlukan untuk piutang, hutang, penjualan atau pendapatan dan beban. Apabila jumlah transaksi untuk masing-masing kategori tersebut dengan Pihak tertentu melebihi Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah), maka jumlah tersebut harus disajikan secara terpisah dan nama pihak tersebut harus diungkapkan.
       
   
Yang dimaksud dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah sebagaimana dimaksud dalam peraturan VIII.G.7, yaitu:
       
      1) Perusahaan yang melalui satu atau lebih perantara, mengendalikan, atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, dengan perusahaan pelapor (termasuk holding companies, subsidiaries dan fellow subsidiaries); 
      2) Perusahaan asosiasi  (associated company); 
      3) Perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di perusahaan pelapor yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari orang perseorangan tersebut (yang dimaksudkan dengan anggota keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi orang perseorangan  tersebut dalam transaksinya dengan perusahaan pelapor); 
      4) Karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin dan mengendalikan kegiatan perusahaan pelapor yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manajer dari perusahaan serta anggota keluarga dekat orang perseorangan  tersebut; dan 
      5) Perusahaan di mana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung, oleh setiap orang perseorangan yang diuraikan dalam angka 3) atau 4), atau setiap orang perseorangan tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut. Ini mencakup perusahaan-perusahaan yang dimiliki anggota dewan komisaris, direksi atau pemegang saham utama dari perusahaan pelapor dan perusahaan-perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan perusahaan pelapor. 
         
    o. Dalam hal terdapat transaksi benturan kepentingan sebagaimana yang dimaksud dalam Peraturan Bapepam No IX.E.1 atau transaksi material sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Bapepam No IX.E.2 maka pada pos yang memuat transaksi tersebut harus diungkapkan transaksi, nilai, dan tanggal RUPS yang menyetujui transaksi tersebut.
       
  8. Kebijakan Akuntansi
     
    a. Manajemen memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi agar laporan keuangan memenuhi ketentuan dalam PSAK dan peraturan Bapepam.
    b. Apabila PSAK dan peraturan Bapepam belum mengatur masalah pengakuan, pengukuran, penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi atau peristiwa, maka manajemen harus menetapkan kebijakan untuk memastikan bahwa laporan keuangan menyajikan informasi: relevan terhadap kebutuhan para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan, dan dapat diandalkan, dengan pengertian:
       
      1)  mencerminkan kejujuran penyajian hasil dan posisi keuangan perusahan;
      2) menggambarkan substansi ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi dan tidak semata-mata bentuk hukumnya;
      3) netral yaitu bebas dari keberpihakan;
      4) mencerminkan kehati-hatian; dan
      5) mencakup semua hal yang material.
         
      Manajemen menggunakan pertimbangan untuk menetapkan kebijakan akuntansi yang memberikan informasi yang bermanfaat dengan memperhatikan:
       
      1) persyaratan dan pedoman PSAK yang mengatur hal-hal yang mirip dengan masalah terkait
      2) definisi,  kriteria  pengakuan  dan  pengukuran  aktiva,  kewajiban, penghasilan  dan  beban  yang  ditetapkan  dalam  kerangka  dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan; dan
      3) pernyataan yang dibuat oleh badan pembuat standar lain dan praktik industri yang lazim sepanjang konsisten dengan angka 1) dan 2).
         
  9. Konsistensi Penyajian
     
    a. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsisten, kecuali:
       
      1) Terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi perusahaan atau perubahan penyajian akan menghasilkan penyajian yang lebih tepat atas suatu transaksi atau peristiwa; atau
      2) Perubahan tersebut dipersyaratkan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan atau diwajibkan oleh suatu ketentuan perundang-undangan.
         
    b. Apabila penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan diubah maka penyajian periode sebelumnya direklasifikasi untuk memastikan daya banding. Sifat, jumlah, serta alasan reklasifikasi harus diungkapkan. Apabila reklasifikasi tersebut tidak praktis dilakukan maka alasannya harus diungkapkan.
       
  10.  Materialitas dan Agregasi
     
    a.

“Material” adalah istilah yang digunakan untuk mengemukakan sesuatu yang dianggap wajar untuk diketahui oleh pengguna laporan keuangan. Informasi dianggap material apabila tidak disajikannya (omission) atau terdapat kesalahan dalam mencatat (misstatement) informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil. Kecuali ditentukan secara khusus, pengertian material adalah 5% dari jumlah seluruh aktiva untuk akun-akun aktiva, 5% dari jumlah seluruh kewajiban untuk akun-akun kewajiban, 5% dari jumlah seluruh ekuitas untuk akun-akun ekuitas, 10% dari pendapatan untuk akun-akun laba rugi, dan 10% dari laba sebelum pajak untuk pengaruh suatu peristiwa atau transaksi seperti perubahan estimasi akuntansi.

    b. Akun-akun yang material disajikan terpisah dalam laporan keuangan. Untuk akun-akun yang nilainya tidak material, tetapi merupakan komponen utama laporan keuangan, harus disajikan tersendiri. Sedangkan untuk akun-akun yang nilainya tidak material, dan tidak merupakan komponen utama, dapat digabungkan dalam pos tersendiri, namun harus dijelaskan sifat dari unsur utamanya dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
    c. Akun yang berbeda tetapi mempunyai sifat atau fungsi yang sama dapat digabungkan dalam satu pos jika saldo masing-masing akun tidak material. Contoh pos hasil penggabungan antara lain Biaya Dibayar Dimuka, Pendapatan Diterima  Dimuka dan lain sebagainya. Jika penggabungan beberapa akun mengakibatkan jumlah keseluruhan menjadi material, maka unsur yang jumlahnya terbesar agar disajikan tersendiri.
       
  11. Saling Hapus (Offsetting)
     
    Pos aktiva dan kewajiban, dan pos penghasilan dan beban tidak boleh saling hapus, kecuali diperkenankan oleh PSAK.  Contoh: beban bunga dan penghasilan bunga tidak boleh disalinghapuskan dan harus disajikan terpisah, sedangkan keuntungan dan kerugian kurs disalinghapuskan.
     
  12. Informasi Komparatif
     
    a. Informasi kuantitatif harus diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya, kecuali dinyatakan lain oleh PSAK. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya  diungkapkan  kembali apabila relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.
    b. Laporan keuangan disajikan secara perbandingan, setidaknya untuk 2 (dua) tahun terakhir sesuai peraturan yang berlaku. Sedangkan Laporan Keuangan Interim disajikan secara perbandingan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Perhitungan Laba Rugi Interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan periode interim yang dilaporkan.
       
  13.  Peristiwa Setelah Tangal Neraca
     
    Peristiwa atau transaksi yang terjadi antara tanggal neraca dan tanggal penerbitan laporan keuangan yang mempunyai akibat material terhadap laporan keuangan, yang memerlukan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan keuangan, harus diungkapkan.
                             
B.  Komponen Laporan Keuangan
   
  1. Laporan Keuangan
     
    Laporan keuangan terdiri dari
    a. Neraca;
    b. Laporan Laba Rugi;
    c. Laporan Perubahan Ekuitas;
    d. Laporan Arus Kas; dan
    e. Catatan atas Laporan Keuangan.
       
  2. Neraca
     
    a. Komponen Utama Neraca
       


     Komponen utama neraca terdiri dari:



1) Aktiva
        a) Aktiva Lancar:  
          (1)  Kas dan Setara Kas;   
          (2)  Investasi Jangka Pendek;  
          (3)  Wesel Tagih;  
          (4)  Piutang Usaha;  
          (5)  Piutang Lain-Lain;  
          (6)  Persediaan;  
          (7)  Pajak Dibayar Dimuka;  
          (8)  Biaya Dibayar Dimuka; dan  
          (9)  Aktiva Lancar Lain-lain.  
        b) Aktiva Tidak Lancar  
          (1)  Piutang Hubungan Istimewa;  
          (2)  Aktiva Pajak Tangguhan;  
          (3)  Investasi pada Perusahaan Asosiasi  
          (4)  Investasi Jangka Panjang Lain;  
          (5)  Aktiva Tetap;  
          (6)  Aktiva Tak Berwujud; dan  
          (7)  Aktiva Lain-Lain.  
             
      2) Kewajiban
        a) Kewajiban Lancar  
          (1)  Pinjaman Jangka Pendek;  
          (2)  Wesel Bayar;  
          (3)  Hutang Usaha;  
          (4)  Hutang Pajak;  
          (5)  Beban Masih Harus Dibayar;  
          (6)  Pendapatan Diterima Dimuka  
          (7)  Bagian Kewajiban Jangka Panjang yang akan Jatuh Tempo dalam Waktu Satu Tahun; dan  
          (8)  Kewajiban Lancar Lain-lain.  
        b) Kewajiban Tidak Lancar  
          (1)  Hutang Hubungan Istimewa;  
          (2)  Kewajiban Pajak Tangguhan;  
          (3)  Pinjaman Jangka Panjang;  
          (4)  Hutang Sewa Guna Usaha  
          (5)  Keuntungan Tangguhan  Aktiva  Dijual dan Disewa Guna Usaha Kembali  
          (6)  Hutang Obligasi  
          (7)  Kewajiban Tidak Lancar Lainnya;  
          (8)  Hutang Subordinasi; dan  
          (9)  Obligasi Konversi.  
             
      3) Ekuitas
        a)  Modal Saham;  
        b)  Tambahan Modal Disetor;  
        c)  Selisih Kurs Karena Penjabaran Laporan Keuangan;  
        d)  Selisih Transaksi Perubahan Ekuitas Perusahaan Asosiasi;  
        e)  Keuntungan (Kerugian) yang Belum Direalisasi dari Efek Tersedia Untuk Dijual;  
        f)  Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap;  
        g)  Opsi Saham  
        h)  Saldo Laba; dan  
        i)  Modal Saham Diperoleh Kembali.  
           


b. Penjelasan Komponen Utama Neraca
       

    1) Aktiva   
         
        a) Aktiva Lancar  
           




  Suatu aktiva diklasifikasikan sebagai aktiva lancar, jika aktiva tersebut memenuhi salah satu kriteria berikut :  
          (1) Berupa kas atau setara kas yang penggunaannya tidak dibatasi;   
          (2) Diperkirakan akan direalisasi atau dimiliki untuk dijual atau digunakan dalam jangka waktu siklus operasi normal perusahaan; atau   
          (3) Dimiliki untuk diperdagangkan atau untuk tujuan jangka pendek dan diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan dari tanggal neraca.
             
          Pos aktiva lancar antara lain sebagai berikut :
           
          (1)
Kas dan Setara Kas  
             
            Kas merupakan alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan untuk membiayai kegiatan Perusahaan. Setara kas adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko perubahan nilai. Instrumen yang dapat diklasifikasikan sebagai setara kas meliputi:
             
            (a) Deposito berjangka yang akan jatuh tempo dalam waktu 3 (tiga) bulan atau kurang dari tanggal penempatannya serta tidak dijaminkan.
            (b) Instrumen pasar uang yang diperoleh dan akan dicairkan dalam jangka waktu tidak lebih dari 3 (tiga) bulan.
                 
            Kas dan setara kas yang telah ditentukan penggunaanya atau yang tidak dapat digunakan secara bebas tidak diklasifikasi dalam kas dan setara kas.
             
          (2) Investasi Jangka Pendek
             
           

Pos ini merupakan bentuk investasi yang dimaksudkan untuk pemanfaatan dana perusahaan dalam jangka pendek. Investasi jangka pendek antara lain adalah deposito dan efek yang jatuh tempo atau pemilikannya dimaksudkan tidak lebih dari 12 (dua belas) bulan. Investasi Jangka Pendek dalam efek yang nilai wajarnya tersedia dapat berupa efek hutang (debt securities) dan efek ekuitas (equity securities) yang dapat digolongkan dalam 3 (tiga) kategori yaitu :   

             
            (a) Diperdagangkan (trading)   

            Yang termasuk dalam kelompok ini adalah efek yang dibeli dan dimiliki untuk menghasilkan keuntungan dari perbedaan harga jangka pendek. Suatu Efek harusdiklasifikasikan sebagai "Diperdagangkan", tanpa memperhatikan alasan perolehannya, jika Efek tersebut merupakan bagian dari suatu portofolio  Efek sejenis dimana terdapat bukti bahwa pola pembelian dan penjualan Efek yang sekarang terjadi adalah untukmemperoleh keuntungan jangka pendek. 

Efek untuk "Diperdagangkan" disajikan di Neraca sebesar nilai wajar, dan keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi diakui dalam Laporan Laba Rugi.    

                 

          (b)
Dimiliki hingga jatuh tempo (held to maturity)   




      Merupakan aktiva keuangan dengan kepastian pembayaran dan kepastian tanggal jatuh tempo, dimana perusahaan bermaksud dan mampu memilikinya hingga jatuh tempo.  
              Efek yang dimiliki hingga jatuh tempo disajikan di Neraca sebesar biaya perolehan setelah diperhitungkan amortisasi premi atau diskonto. Perusahaan harus secara konsisten menggunakan metode amortisasi yang menghasilkan penyajian wajar dalam laporan keuangan.
                 
            (c)
Tersedia untuk dijual (available for sale):
              Efek yang termasuk dalam kelompok ini adalah efek yang tidak memenuhi kriteria Diperdagangkan atau Dimiliki hingga jatuh tempo.    
              Efek ini disajikan di Neraca sebesar nilai wajar, dan keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi diakui sebagai komponen ekuitas, sampai Efek tersebut dijual atau dilepas, dan pada saat tersebut keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi diakui dalam Laporan Laba Rugi.    
              Investasi pada efek yang seharusnya disajikan sebesar nilai wajar, tetapi efek tersebut tidak aktif diperdagangkan dan nilai wajar tidak dapat ditentukan secara andal, harus disajikan sebesar biaya perolehan.    
              Investasi jangka pendek pada aktiva non keuangan (misal: investasi properti) harus disajikan sebesar nilai terendah antara biaya dan harga pasar.
                 

   
  (3) Wesel Tagih
             
            Pos ini merupakan piutang usaha pihak ketiga yang didukung janji tertulis untuk membayar dalam jangka waktu kurang dari 12 (duabelas) bulan atau satu siklus usaha normal, mana yang lebih lama.
            Wesel Tagih disajikan sebesar jumlah yang dapat direalisasi, setelah memperhitungkan penyisihan wesel tagih yang diperkirakan tidak dapat ditagih.
             
          (4)
Piutang Usaha   
             
            Pos ini merupakan piutang yang berasal dari kegiatan normal perusahaan.

          Piutang usaha disajikan terpisah antara pihak ketiga dan pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Piutang ini disajikan sebesar jumlah yang dapat direalisasikan, setelahmemperhitungkan penyisihan piutang yang diperkirakan tidak dapat ditagih.
             
          (5)  Piutang Lain-lain   
             
            Pos ini merupakan tagihan perusahaan pada pihak ketiga yang menurut sifat dan jenisnya tidak dapat dikelompokkan dalam pos pos pada angka (3) dan (4) di atas.    
            Piutang Lain-lain disajikan sebesar jumlah yang dapat direalisasi, setelah dikurangi penyisihan piutang yang diperkirakan tidak dapat ditagih.    
             

        (6)
Persediaan   
             
            Persediaan adalah aktiva yang:    
             
            (a)  tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal;   
            (b)
dalam perjalanan; atau   
            (c)
dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam pemberian jasa   
                 
            Persediaan disajikan sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah (the lower of cost or net realizable value).
             
            Dalam hal perusahaan sebagai consignee, barang konsinyasi tidak termasuk dalam pos persediaan.    
             
          (7)
Pajak Dibayar Dimuka
             
            Pos ini merupakan:     
             
            (a)  Kelebihan pembayaran pajak, misalnya Pajak Pertambahan Nilai, yang akan ditagih kembali atau dikompensasikan terhadap kewajiban pajak masa berikutnya.
            (b)  Aktiva Pajak Kini yaitu kelebihan jumlah Pajak Penghasilan yang telah dibayar pada periode berjalan dan periode sebelumnya dari jumlah pajak yang terhutang untuk periode-periode tersebut. Aktiva Pajak Kini harus dikompensasi (offset) dengan Kewajiban Pajak Kini dan jumlah netonya harus disajikan pada Neraca.   
                 
            Pajak dibayar dimuka disajikan sebesar selisih antara uang yang dibayarkan dengan tagihan pajak.    
             
          (8)  Biaya Dibayar Dimuka.   
             
            Pos ini merupakan biaya yang telah dibayar namun pembebanannya baru akan dilakukan pada periode yang akan datang, pada saat manfaat diterima, seperti premi asuransi dibayar di muka, dan sewa dibayar di muka.     
            Biaya dibayar dimuka disajikan sebesar nilai yang belum diterima manfaatnya.    
             
          (9)  Aktiva Lancar Lain-lain    
             
            Pos ini mencakup aktiva lancar yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam angka (1) sampai dengan angka (8) di atas, termasuk pembayaran di muka untuk memperoleh barang atau jasa yang akan digunakan dalam waktu 12 (dua belas) bulan atau satu siklus normal perusahaan. Aktiva lancar lain-lain disajikan sebesar nilai tercatat.     
             
         b) Aktiva Tidak Lancar
           




  Aktiva yang tidak termasuk dalam Aktiva Lancar diklasifikasikan sebagai Aktiva Tidak Lancar   
           
          (1)
Piutang Hubungan Istimewa   
             
            Pos ini merupakan piutang yang timbul sebagai akibat dari transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa, selain untuk pos yang telah ditentukan penyajiannya pada Kasdan Setara Kas, Investasi Jangka Pendek dan Piutang Usaha.
             
            Piutang Hubungan Istimewa disajikan sebesar jumlah yang dapat direalisasikan. Jika untuk transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa dibentuk penyisihan, makaalasan dan dasar pembentukan penyisihan serta penjelasan transaksi terjadinya piutang harus diungkapkan.    
             
          (2)  Aktiva Pajak Tangguhan   
             
            Pos ini merupakan jumlah Pajak Penghasilan terpulihkan pada periode mendatang sebagai akibat adanya:     
             
            (a)  Perbedaan temporer yang boleh dikurangkan, dan    
            (b)  Sisa kompensasi kerugian   
                 
            Konsekuensi pajak dari saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi diakui sebagai Aktiva Pajak Tangguhan apabila besar kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa yang akan datang memadai untuk dikompensasi. Aktiva pajak tangguhan disajikan sebesar jumlah yang dapat dipulihkan kembali Aktiva Pajak Tangguhan harus dikompensasi (offsetdengan Kewajiban Pajak Tangguhan dan jumlah netonya disajikan pada Neraca.    
             
          (3)  Investasi pada Perusahaan Asosiasi   
             
            Pos ini merupakan investasi pada perusahaan asosiasi yang dimaksudkan untuk dimiliki oleh perusahaan dalam jangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan.    
            Investasi pada perusahaan asosiasi (perusahaan memiliki 20% sampai dengan 50% bagian ekuitas perusahaan investee), harus disajikan menggunakan metode ekuitas sebesar biayaperolehan (cost) dan selanjutnya disesuaikan untuk bagian pemilikan perusahaan atas perubahan nilai buku perusahaan asosiasi.    
             
          (4)  Investasi Jangka Panjang Lain   
             
            Pos ini merupakan investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki oleh perusahaan dalam jangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan.     
            Investasi ini dapat berbentuk, investasi dalam efek hutang dan efek ekuitas, investasi dalam properti dan investasi lainnya.    
             

          (a)
Investasi dalam efek ekuitas dan efek hutang   
              i Investasi dalam efek ekuitas (perusahaan memiliki kurang dari 20% saham perusahaan  investee), harus diklasifikasikan sebagai "Tersedia untuk dijual". Dalam hal ini, prosedur untuk pengklasifikasian, pengukuran dan pengakuan sama dengan yang digunakan untuk investasi jangka pendek.
              ii Investasi dalam efek hutang, harus diklasifikasikan sebagai "Dimiliki hingga jatuh tempo" atau "Tersedia untuk dijual". Dalam hal ini, prosedur untuk pengklasifikasian, pengukuran dan pengakuan sama dengan yang digunakan untuk investasi jangka pendek.
                     
              Investasi pada efek yang seharusnya disajikan sebesar nilai wajar, tetapi efek tersebut tidak aktif diperdagangkan dan nilai wajarnya tida dapat ditentukan secara andal, harus disajikan sebesar biaya perolehan   
                 
            (b)  Investasi dalam properti dan investasi lainnya   
              i Investasi dalam properti, harus disajikan di Neraca sebesar harga perolehan.
              ii Investasi lainnya harus disajikan sebesar nilai wajar.
                     
            Apabila suatu investasi jangka panjang disajikan sebesar biaya, namun jumlah yang dapat dipulihkan ternyata kurang dari nilai tercatat (penurunan  nilai permanen), maka nilai tercatat investasi tersebut harus dikurangi sampai jumlah yang dapat dipulihkan tersebut. Pengurangan ini adalah kerugian penurunan nilai, yang termasuk dalam Laporan Laba Rugi.
            Investasi "Tersedia untuk dijual" yang disajikan sebesar nilai wajarnya dapat mengalami penurunan nilai secara permanen apabila terdapat bukti yang obyektif. Keadaan ini terjadi akibat penurunan kondisi keuangan dan kondisi lainnya dari perusahaan penerbit Efek tersebut. Penurunan permanen ini menyebabkan nilai tercatat Efek melebihi estimasi jumlah yang dapat dipulihkan. Dalam hal ini kerugian penurunan nilai ini diperlakukan sebagai berikut:    
             
            (a)
Kerugian bersih kumulatif untuk Efek tertentu yang telah diakui secara langsung dalam komponen ekuitas harus dipindahkan dari komponen  ekuitas dan dimasukkan dalam Laporan Laba Rugi periode berjalan meskipun Efek tersebut belum dijual atau dilepas.
            (b)  Jumlah kerugian yang harus  dipindahkan dari ekuitas ke Laporan Laba Rugi, adalah perbedaan antara biaya perolehan Efek dan nilai wajar Efek (nilai tercatatnya), dikurangi dengan kerugian penurunan nilai dari Efek yang sebelumnya sudah diakui dalam Laporan Laba Rugi.
            (c)  Jika dalam periode berikutnya, nilai wajar Efek mengalami kenaikan dan kenaikan tersebut secara obyektif dapat dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi setelah kerugian penurunan  nilai sebelumnya diakui dalam Laporan Laba Rugi, maka kerugian penurunan nilai harus dipulihkan melalui Laporan Laba Rugi periode berjalan.   
                 

        (5)
Aktiva Tetap   
             
            Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai, baik melalui pembelian maupun dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam kegiatan usaha perusahaan serta tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.    
             
            Aktiva tetap dapat berupa:     
             
            (a)  Pemilikan Langsung
                 
              Pos ini merupakan aktiva tetap yang siap pakai, transaksinya telah selesai, dan menjadi hak perusahaan secara hukum. Aktiva ini ini dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan    
                 
            (b)  Aktiva Sewa Guna Usaha
                 
              Pos ini merupakan aktiva tetap yang diperoleh melalui transaksi sewa guna usaha yang memenuhi kriteria capital lease. Aktiva sewa guna usaha dicatat sebesar nilai tunai (present value) dari seluruh pembayaran sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus dibayar oleh penyewa guna usaha pada akhir masa sewa guna usaha.
                 
            (c)  Aktiva dalam Penyelesaian
                 
              Pos ini merupakan aktiva yang masih dalam proses pembangunan dan belum siap untuk digunakan, serta dimaksudkan untuk dipergunakan oleh perusahaan dalam kegiatan usahanya. Aktiva ini dicatat sebesar biaya yang telah dikeluarkan.
              Dalam hal proses pembangunan aktiva tersebut terhenti dan tidak mungkin dilanjutkan, maka harus dikeluarkan dari komponen aktiva tetap.
                 
            Aktiva tetap disajikan sebesar biaya perolehannya dikurangi dengan akumulasi penyusutannya kecuali aktiva dalam penyelesaian.
             
            Tanah pada umumnya tidak disusutkan, kecuali:    
             
            (a)  Kondisi kualitas tanah tak lagi digunakan dalam operasi utama perusahaan.   
            (b)
Prediksi manajemen atau kepastian bahwa perpanjangan atau pembaharuan hak kemungkinan besar atau pasti tidak diperoleh.
                 
            Biaya perolehan aktiva tetap  harus memperhitungkan hal-hal sebagai berikut (jika ada):    
             
            (a)
Biaya pinjaman yang secara langsung dapat diatribusikan dengan perolehan atau konstruksi aktiva tetap yang memenuhi syarat untuk dikapitalisasi
            (b)  Penurunan dan pemulihan kembali nilai aktiva tetap   
            (c)  Penilaian kembali aktiva tetap.   
                 
          (6) Aktiva Tidak Berwujud
             
            Pos ini merupakan aktiva non moneter yang dapat diindentifikasi dan tidak memiliki wujud fisik, serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, untuk disewakan kepada pihak lainnya atau untuk tujuan administratif.  
             
            Pos ini antara lain terdiri dari hak paten, merek dagang, goodwill, biaya pengembangan.
             
            Pengakuan aktiva tidak berwujud dilakukan apabila memenuhi kriteria berikut:     
             




    (a) Kemungkinan besar manfaat ekonomi masa mendatang dari aktiva tersebut akan diperoleh perusahaan.   
            (b) Nilai perolehannya dapat diukur secara andal.    
               
            Dari segi eksistensinya, aktiva tidak berwujud dikelompokkan dalam dua kategori yaitu :
             
         
(a) Aktiva Tidak Berwujud yang eksistensinya dibatasi oleh ketentuan perundang-undangan, peraturan pemerintah, perjanjian yang dibuat antara para pihak atau sifat dari aktiva tersebut, misalnya hak paten, hak sewa, hak cipta, waralaba (franchise) yang terbatas waktunya dan lisensi.




    (b) Aktiva tidak berwujud yang masa manfaatnya tidak terbatas dan tidak dapat dipastikan masa berakhirnya, misalnya merk dagang, proses dan formula rahasia, biaya pengembangan dan waralaba yang tidak terbatas waktunya (perpetual franchise)
               
            Masa manfaat suatu aktiva tidak berwujud tidak akan melebihi 20 tahun, kecuali terdapat bukti yang meyakinkan. Amortisasi aktiva tidak berwujud berdasarkan masa manfaat.
             
            Aktiva Tidak Berwujud disajikan sebesar nilai tercatat, yaitu biaya perolehan dikurangi dengan akumulasi amortisasi dan akumulasi rugi penurunan nilai aktiva tidak berwujud.     
             
          (7) Aktiva Lain-lain
             
            Pos-pos yang tidak dapat digolongkan dalam kelompok aktiva tetap, aktiva lancar, investasi/penyertaan maupun aktiva tak berwujud disajikan dalam kelompok Aktiva Lain-lain. Pos ini antara lain mencakup:
             
            (a) Aktiva tetap yang tidak digunakan lagi;     
            (b) Aktiva dari segmen usaha yang telah diputuskan oleh manajemen untuk dihentikan atau akan dijual.
            (c) Beban tangguhan, misalnya biaya yang timbul untuk pengurusan legal tanah dan biaya perluasan usaha. Beban tangguhan harus diamortisasi sesuai dengan masa manfaat masing-masing jenis beban. Saldo beban tangguhan sesudah amortisasi yang berkaitan dengan suatu kewajiban, harus dihapuskan secara proporsional, bila sebagian dari kewajiban tersebut dilunasi atau diselesaikan.
               
            Aktiva lain-lain disajikan sebesar nilai tercatat, yaitu biaya perolehan setelah dikurangi dengan amortisasi dan penurunan nilai.
             
            (d) Biaya biaya emisi yang dikeluarkan sampai proses emisi selesai. Disajikan sebesar biaya yang telah dikeluarkan.
               
      2)  Kewajiban
         
        Kewajiban merupakan tanggung jawab perusahaan pada saat ini yang timbul dari peristiwa masa lalu, yang penyelesaiannya diperkirakan akan membutuhkan sumber daya perusahaan.
         
        Kewajiban disajikan sebesar jumlah yang harus dibayar, kecuali ditentukan lain.
         
        a) Kewajiban Lancar
          Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban lancar jika diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan dari tanggal neraca atau satu siklus normal operasi perusahaan.
          Kewajiban lancar dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
           
          (1) Pinjaman Jangka Pendek
                         
            Pos ini merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak bank atau lembaga keuangan lainnya. Bunga yang telah jatuh tempo disajikan sebagai Hutang Bunga.
                         
          (2) Wesel Bayar  
                         
            Pos ini merupakan hutang usaha pada pihak ketiga yang didukung janji tertulis untuk membayar dalam jangka waktu kurang dari 12 (dua belas) bulan dari tanggal neraca atau satu siklus operasi normal perusahaan, mana yang lebih lama
                         
          (3) Hutang Usaha
                         
            Pos ini merupakan kewajiban yang timbul dalam rangka kegiatan normal operasi Perusahaan, baik kewajiban kepada pihak ketiga maupun pihak yang memiliki hubungan istimewa.
                         
          (4) Hutang Pajak
                         
         
Pos ini merupakan:      
                         
            (a) Kewajiban pajak perusahaan dan pajak lainnya yang belum dibayar.     
            (b) Kewajiban pajak kini, yaitu jumlah pajak penghasilan terutang atas penghasilan kena pajak pada periode berjalan. Kewajiban Pajak Kini harus dikompensasi (offset) dengan Aktiva Pajak Kini dan jumlah netonya harus disajikan pada Neraca.
                           
          (5) Beban Masih Harus Dibayar    
                         
            Pos ini merupakan beban yang telah menjadi kewajiban perusahaan namun belum jatuh tempo.
                         
          (6) Pendapatan Diterima Dimuka    
             
            Pos ini merupakan pembayaran yang diterima dari pelanggan dan pihak ketiga, yang belum dapat diakui sebagai pendapatan karena penyerahan jasa belum diselesaikan.
             
          (7) Bagian Kewajiban Jangka Panjang yang Jatuh Tempo dalam Waktu Satu Tahun
             
            Pos ini merupakan bagian kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 (dua belas) bulan dari tangal neraca
             
            Pos ini disajikan dalam neraca dengan cara merinci jenis kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun, misalnya:      
             
            (a) Pinjaman Jangka Panjang  
            (b) Hutang Sewa Guna Usaha    
            (c) Hutang Obligasi.    
               
          (8) Kewajiban Lancar Lain-Lain
             
            Pos ini merupakan kewajiban lancar yang tidak dapat diklasifikasikan dalam 7 (tujuh) kelompok akun tersebut di atas.
             
     
b)  Kewajiban Tidak Lancar    
           
          Semua kewajiban lainnya yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai kewajiban lancar merupakan kewajiban tidak lancar. Kewajiban tidak lancar antara lain terdiri dari :
           
          (1) Hutang Hubungan Istimewa    
             
            Pos ini merupakan hutang yang timbul dari transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa, selain untuk pos hutang usaha yang telah ditentukan penyajiannya.
             
          (2) Kewajiban Pajak Tangguhan
             
            Pos ini merupakan jumlah pajak penghasilan terutang untuk periode mendatang sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak. Kewajiban Pajak Tangguhan harus dikompensasi (offset) dengan Aktiva Pajak Tangguhan dan jumlah netonya disajikan pada Neraca.
             
          (3) Pinjaman Jangka Panjang    
             
            Pos ini merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak bank atau lembaga keuangan lainnya yang jatuh tempo dalam jangka waktu lebih dari satu tahun.
             
          (4) Hutang Sewa Guna Usaha    
             
            Pos ini merupakan kewajiban perusahaan kepada perusahaan sewa guna usaha (leasing company) sehubungan dengan perolehan aktiva perusahaan.
            Pos ini merupakan sewa guna usaha dengan hak opsi (capital lease)
            Hutang Sewa Guna Usaha disajikan sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) dikurangi angsuran pokok.
             
          (5) Keuntungan Tangguhan Aktiva Dijual dan Disewa Guna Usaha Kembali    
             
            Dalam hal dilakukan penjualan dan penyewagunausahaan kembali (sales and lease-back) maka transaksi tersebut harus diperlakukan sebagai dua transaksi yang terpisah, yaitu: 
             
            (a) transaksi penjualan dan
            (b) transaksi sewa guna usaha
               
            Selisih antara harga jual dan nilai buku aktiva yang dijual harus diakui dan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan. Amortisasi atas keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan harus dilakukan secara:      
             
            (a) proposional dengan biaya amortisasi aktiva yang disewagunausahakan apabila lease-back merupakan capital lease.
            (b) proporsional dengan biaya sewa aktiva yang disewagunausahakan apabilalease-back merupakan operating lease.     
               
            Keuntungan tangguhan disajikan  sebesar nilai yang belum diamortisasi.
            Dalam hal terjadi rugi dari penjualan aktiva yang disewagunausaha kembali, kerugian tersebut disajikan pada Aktiva Lain-lain.
             
          (6) Hutang Obligasi 
             
            Pos ini merupakan kewajiban perusahaan kepada pemegangobligasi sehubungan dengan penerbitan obligasi perusahaan. Hutang Obligasi disajikan sebesar nilai nominal setelah memperhitungkan amortisasi premium atau diskonto.
             
          (7) Kewajiban Tidak Lancar Lainnya.
             
            Pos ini mencakup kewajiban tidak lancar yang tidak dapat dikelompokkan dalam butir (1) sampai dengan (6) di atas. Penyajian kewajiban tidak lancar lainnya dalam neraca disesuaikan dengan urutan jatuh temponya.
             
          (8) Hutang Subordinasi
             
            Pos ini merupakan pinjaman yang diperoleh berdasarkan suatu perjanjian subordinasi, dengan ketentuan pinjaman tersebut baru dapat dibayar kembali apabila perusahaan telah melunasi seluruh kewajibannya atau kewajiban tertentu.
             
          (9) Obligasi Konversi
             
            Pos ini merupakan hutang obligasi yang dapat dikonversikan menjadi saham perusahaan di masa yang akan datang. Obligasi Konversi disajikan sebesar nilai nominal setelah memperhitungkan amortisasi premium atau diskonto.
             
          Biaya emisi Efek hutang merupakan biaya transaksi yang harus dikurangkan langsung dari hasil emisi dalam rangka menentukan hasil emisi neto efek hutang tersebut. Selisih antara hasil emisi neto dengan nilai nominal merupakan diskonto atau premium yang harus diamortisasi selama jangka waktu efek hutang tersebut.
             
          Saldo biaya emisi efek hutang tangguhan sebelum berlakunya peraturan ini harus diperlakukan sesuai dengan peraturan ini.
             
          Perusahaan harus tetap menyajikan kewajiban berbunga sebagai Kewajiban Tidak Lancar walaupun akan jatuh tempo dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal neraca, apabila semua syarat berikut dipenuhi: 
             
          (1) Kesepakatan awal perjanjian pinjaman adalah untuk jangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan;
     
  (2) Perusahaan bermaksud membiayai kembali kewajibannya dengan pendanaan jangka panjang; dan
          (3) Butir kedua di atas (maksud tersebut pada huruf b), harus didukung dengan perjanjian pembiayaan kembali atau penjadwalan kembali yang resmi disepakati sebelum laporan keuangan diterbitkan (disetujui).
             
      3) Ekuitas
         
        Ekuitas adalah bagian hak pemilik dalam perusahaan, yang merupakan nilai sisa dari aktiva suatu perusahaan setelah dikurangi dengan kewajibannya.  
         
        Komponen ekuitas umumnya terdiri atas :
         
        a) Modal Saham   
          Pada pos ini disajikan nilai nominal untuk setiap jenis saham. Disamping itu, pada pos ini disajikan:
           
          (1) Modal Dasar
             
            Jumlah saham, untuk setiap jenis saham sesuai dengan anggaran dasar perusahaan.
             
          (2) Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
             
            Jumlah dari bagian modal dasar yang telah ditempatkan dan disetor penuh untuk tiap jenis saham. 
             
        b) Tambahan Modal Disetor
           
          Tambahan Modal Disetor disajikan pada neraca dengan menjumlahkan pos-pos berikut :
           
          (1) Agio Saham
             
            Pos ini merupakan kelebihan setoran pemegang saham di atas nilai nominal.
             
          (2) Biaya Emisi Efek Ekuitas
             
            Pos ini merupakan biaya yang berkaitan dengan penerbitan efek ekuitas perusahaan. Biaya ini mencakup fee dan komisi yang dibayarkan kepada penjamin emisi, lembaga dan profesi penunjang pasar modal, serta biaya pencetakan dokumen pernyataan pendaftaran, biaya pencatatan efek ekuitas di bursa efek, dan biaya promosi. Biaya-biaya yang berkaitan dengan pencatatan saham di bursa efek atas saham yang sudah beredar dan biaya yang berkaitan dengan dividen saham dan pemecahan saham tidak termasuk dalam pos biaya emisi efek ekuitas.
             
            Saldo biaya emisi efek ekuitas sebelum berlakunya peraturan ini harus diperlakukan sesuai dengan peraturan ini.
             
            Jumlah yang dapat dikapitalisasi oleh perusahaan dalam rangka pembagian saham bonus adalah selisih antara Agio Saham dengan Biaya Emisi Efek Ekuitas.
             
          (3) Selisih Modal dari Perolehan Kembali Saham
             
            Pos ini merupakan selisih antara jumlah yang dibayarkan pada saat perolehan kembali, dengan :
             
            (a) Jumlah yang diterima saat pengeluaran saham ( jika menggunakan cost method)  
            (b) Nilai nominal (jika menggunakan par value method)
               
          (4) Selisih Kurs atas Modal yang Disetor
             
            Pos ini merupakan selisih kurs mata uang asing yang timbul sehubungan dengan transaksi modal.
             
          (5) Modal Sumbangan
             
            Pos ini merupakan modal yang berasal dari sumbangan yang diperoleh perusahaan dari pemerintah dan atau dari pemegang saham dan atau pihak lain.
             
          (6) Modal Disetor Lainnya
             
            Pos ini antara lain terdiri dari :
            (a) Setoran modal yang belum dapat dibukukan sebagai modal disetor penuh karena masih menunggu pengesahan peningkatan modal dasar dari instansi yang berwenang.
               
              Dalam hal Penawaran Umum dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, uang muka pemesanan saham disajikan sebagai Modal Disetor Lainnya. Namun apabila uang muka tersebut melebihi jumlah yang akan menjadi modal saham (oversubscribed), maka kelebihan tersebut harus disajikan sebagai kewajiban lancar.
               
            (b) Nilai waran pisah (detachable warrants) yang belum dan tidak dilaksanakan.
               
        c) Selisih Kurs karena Penjabaran Laporan Keuangan
           
          Pos ini merupakan selisih kurs yang timbul dari:
          (1) Penjabaran pendapatan dan beban dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal transaksi dan aktiva serta kewajiban dengan menggunakan kurs penutup.
          (2) Penjabaran saldo awal investasi neto dalam entitas asing dengan kurs yang berbeda dari yang dilaporkan sebelumnya
          (3) Perubahan lain atas ekuitas dalam entitas asing.
             
        d) Selisih Transaksi Perubahan Ekuitas Perusahaan Asosiasi
           
          Pos ini merupakan perbedaan antara nilai investasi perusahaan pada perusahaan asosiasi sebagai akibat adanya perubahan ekuitas perusahaan asosiasi yang bukan berasal dari transaksi antara perusahaan dengan perusahaan asosiasi tersebut.
           
        e) Keuntungan atau Kerugian yang belum Direalisasi dari Efek yang Tersedia untuk Dijual
           
          Pos ini merupakan keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi dari efek ekuitas dan efek hutang yang tersedia untuk dijual.
           
        f) Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap
           
          Pos ini merupakan tambahan nilai aktiva tetap sebagai hasil penilaian kembali sesuai ketentuan Pemerintah, setelah memperhitungkan pajak yang terkait.
          Pos ini disajikan apabila perusahaan memilih untuk membukukan hasil penilaian kembali aktiva tetap.
           
        g) Opsi Saham
           
          Pos ini merupakan nilai efek yang menjadi basis kompensasi pemberian saham kepada karyawan perusahaan.
           
        h) Saldo Laba
           
          Pos ini merupakan akumulasi hasil usaha periodik setelah memperhitungkan pembagian dividen dan koreksi laba rugi periode lalu.
           
          Dalam hal dilakukan kuasi reorganisasi, jumlah saldo laba negatif (defisit) yang dieliminasi harus disajikan selama tiga tahun berturut-turut sejak tahun kuasi reorganisasi dilakukan.
          Tanggal kuasi reorganisasi harus diungkapkan pada pos saldo laba untuk jangka waktu sepuluh tahun ke depan.
           
        i) Modal Saham yang Diperoleh Kembali
           
          Pos ini merupakan nilai saham perusahaan yang diperoleh kembali dan disajikan sebagai berikut:
          (1) Pengurang ekuitas, jika menggunakan cost method.
          (2) Pengurang modal saham, jika menggunakan par-value method.
                             
  3. Laporan Laba Rugi
     
    a.  Komponen Utama Laporan Laba Rugi
       
      Komponen utama laporan Laba Rugi terdiri dari:
       
      1) Pendapatan Usaha;
      2) Beban Pokok Penjualan;
      3) Laba (Rugi) Kotor;
      4) Beban Usaha; 
      5) Laba (Rugi) Usaha;
      6) Penghasilan (Beban) Lain-lain:
      7) Bagian Laba (Rugi) Perusahaan Asosiasi;
      8) Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan;   
      9) Beban (Penghasilan) Pajak;
      10)  Laba (Rugi) dari Aktivitas Normal;
      11) Pos Luar Biasa; 
      12) Laba (Rugi) Bersih;
      13) Laba (Rugi) Per Saham Dasar; dan
      14) Laba (Rugi) Per Saham Dilusian.
         
    b. Penjelasan Komponen Utama Laporan Laba Rugi
       
      1) Pendapatan Usaha
         
        a) Pos ini merupakan pendapatan yang berasal dari penjualan produk utama perusahaan. Pendapatan usaha disajikan bersih setelah dikurangi potongan penjualan, retur penjualan dan lain-lain.
           
        b) Pendapatan konsinyasi :
           
          (1) Perusahaan dapat mengakui pendapatan secara gross dari penjualan atau secara neto berupa komisi.
             
          (2) Apabila perusahaan bertindak sebagai prinsipal maka pendapatan diakui secara gross dan harus dipisahkan dari pendapatan usaha lainnya.
             
          (3) Apabila perusahaan bertindak sebagai agen maka pendapatan diakui senilai komisinya.
             
      2) Beban Pokok Penjualan
         
     
Pos ini merupakan nilai tercatat dari persediaan yang dijual.
         
         
      3) Laba (Rugi) Kotor
        Pos ini merupakan selisih antara Pendapatan Usaha dengan Beban Pokok Penjualan.
         
      4) Beban Usaha
         
        Pos ini merupakan beban kegiatan utama perusahaan yang dilaporkan dalam dua kategori yaitu:  
        a) Beban penjualan
        b) Beban umum dan administrasi
           
      5) Laba (Rugi) Usaha   
         
        Pos ini merupakan selisih antara  Laba (Rugi) Kotor dengan Beban Usaha.
         
      6) Penghasilan (Beban) Lain-lain
         
        Pos ini merupakan penghasilan (beban) yang tidak dapat dihubungkan langsung dengan kegiatan usaha  utama perusahaan. Penghasilan (Beban) Lain-lain disajikan dengan cara merinci penghasilan (beban) lain-lain, setidak-tidaknya meliputi :
        a) Bagian Laba (Rugi) perusahaan asosiasi
        b) Beban pinjaman
        c) Penghasilan bunga
        d) Laba (rugi) kurs
        e) Lain-lain.
           
      7) Bagian Laba (Rugi ) Perusahaan Asosiasi
         
        Pos ini merupakan laba atau rugi  perusahaan asosiasi pada periode berjalan yang diakui oleh perusahaan sesuai dengan persentase pemilikannya. Pos ini disajikan tersendiri jika nilainya material. Jika tidak material disajikan sebagai bagian Penghasilan (Beban) Lain-lain.
         
      8) Laba (Rugi) Sebelum Pajak Penghasilan
         
        Pos ini merupakan Laba (Rugi) Usaha setelah memperhitungkan Penghasilan (Beban) Lain-Lain dan Bagian Laba (Rugi) Perusahaan Asosiasi.
         
      9) Beban (Penghasilan) Pajak
         
        Pos ini merupakan jumlah agregat pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deffered tax) yang diperhitungkan dalam perhitungan laba atau rugi pada periode berjalan. Pos ini disajikan dengan merinci unsur-unsur beban (penghasilan) pajak kini dan pajak tangguhan.
         
      10)  Laba (Rugi) dari Aktivitas Normal
         
        Pos ini merupakan Laba atau Rugi setelah dikurangi dengan Beban (Penghasilan) Pajak, sebelum pos-pos luar biasa.
         
      11) Pos Luar Biasa
         
        Pos ini merupakan pos-pos yang berasal dari kejadian atau transaksi yang tidak biasa (unusual) dan tidak sering terjadi (infrequent). Pos luar biasa disajikan bersih setelah memperhitungkan pajak.
         
      12) Laba/Rugi Bersih
         
     
Pos ini merupakan Laba/rugi dari aktivitas perusahaan setelah memperhitungkan Beban (Penghasilan) Pajak dan Pos Luar Biasa.      
         
      13) Laba (Rugi) Per Saham Dasar 
         
        Pos ini merupakan Jumlah Laba (Rugi) bersih yang tersedia bagi setiap saham biasa yang beredar selama periode pelaporan.
         
        Dalam hal perusahaan mencatatkan efeknya di bursa lain dalam bentuk Sertifikat Penitipan Efek (SPE), maka disajikan juga laba (rugi) per SPE dasar.
         
      14) Laba (Rugi) Per Saham Dilusian 
         
        Pos ini merupakan jumlah laba (rugi) pada suatu periode yang tersedia bagi setiap saham biasa yang beredar selama periode pelaporan dan saham biasa yang diasumsikan telah diterbitkan bagi semua efek berpotensi saham biasa yang bersifat dilutif yang beredar selama periode pelaporan.
         
        Jumlah saham biasa yang akan diterbitkan saat  konversi efek berpotensi saham biasa ditentukan sesuai persyaratan efek berpotensi saham biasa tersebut. Perhitungan ini mengasumsikan nilai konversi atau harga pelaksanaan yang  paling menguntungkan dari sudut pandang pemegang efek berpotensi saham biasa.
         
        Dalam hal perusahaan mencatatkan efeknya di bursa lain dalam bentuk Sertifikat Penitipan Efek (SPE), maka disajikan juga laba (rugi) per SPE dilusian.
                     
  4. Laporan Perubahan Ekuitas
     
    a. Komponen Laporan Perubahan Ekuitas
       
      Laporan ini harus menyajikan:
       
      1) Laba (rugi) bersih periode bersangkutan
                     
      2) Setiap pos yang berdasarkan PSAK terkait diakui secara langsung dalam ekuitas.
        Contoh pos ini antara lain keuntungan (kerugian) yang belum direalisasi dari efek tersedia untuk dijual 
                     
      3) Pengaruh kumulatif dari perubahan  kebijakan akuntansi dan koreksi atas kesalahan mendasar sebagaimana diatur dalam PSAK terkait, yaitu berupa:
        a) Efek Kumulatif atas Perubahan Kebijakan Akuntansi.
          Merupakan pengaruh kumulatif yang bersifat retrospektif terhadap laba rugi perusahaan sebagai akibat dari suatu perubahan kebijakan akuntansi yang diterapkan perusahaan.
        b) Koreksi atas Kesalahan Mendasar
          Kesalahan mungkin timbul dari kesalahan perhitungan matematis, kesalahan dalam penerapan kebijakan akuntansi, kesalahan interpretasi fakta, dan kecurangan atau kelalaian.
        Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi atas kesalahan mendasar disajikan bersih setelah memperhitungkan pajak.
                     
      4) Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik antara lain berupa penyetoran modal saham dan pembagian dividen.
                     
      5) Saldo laba (rugi) pada awal dan akhir periode, yang dibagi dalam :
        a) Yang Telah Ditentukan Penggunaannya
          Pos ini merupakan saldo laba yang telah ditentukan penggunaannya oleh perusahaan dan yang diwajibkan oleh peraturan yang berlaku.
        b) Yang Belum Ditentukan Penggunaannya
          Pos ini merupakan saldo laba yang belum ditentukan penggunannya oleh perusahaan.
                       
      6) Rekonsiliasi antara nilai tercatat  dari masing-masing jenis modal ditempatkan dan disetor penuh, tambahan modal disetor dan pos-pos ekuitas lainnya pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan.
                             
  5. Laporan Arus Kas
     
    a.  Komponen Utama Laporan Arus Kas
       
      Laporan Arus Kas harus menyajikan arus kas selama periode tertentu dan dikelompokkan menurut klasifikasi aktivitas sebagai berikut :
       
      1) Arus Kas dari Aktivitas Operasi
                     
        a) Arus Kas dari Aktivitas Operasi merupakan indikator yang menentukan apakah dari operasinya perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber pendanaan dari luar.
        b) Arus Kas dari Aktivitas Operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan. Oleh karena itu, arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba (rugi) bersih, 
        c) Arus Kas dari Aktivitas Operasi dapat dikelompokkan dalam kelompok berikut :
          (1) Penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa;
          (2) Penerimaan kas dari royalti, fees, komisi dan pendapatan lain;
          (3) Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa;
          (4) Pembayaran kas kepada karyawan;
          (5) Pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan kecuali jika dapat diidentifikasikan secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan; atau
          (6) Penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang diadakan untuk tujuan transaksi usaha dan perdagangan.
          (7) Bunga yang dibayarkan dan bunga serta dividen yang diterima,  diklasifikasi sebagai arus kas operasi karena mempengaruhi laba (rugi) bersih.
          (8) Hasil penjualan atau jatuh tempo atas efek yang diperdagangkan dan kas yang dikeluarkan untuk pembelian efek yang diperdagangkan termasuk dalam aktivitas operasi, atau
          (9) Arus kas yang berkaitan dengan pajak penghasilan
        d) Perusahaan harus menyajikan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan metode langsung, yaitu mengungkapkan kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto.
                       
      2) Arus Kas dari Aktivitas Investasi 
                     
        a) Arus Kas dari Aktivitas Investasi mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan.
                       
        b) Arus Kas dari Aktivitas Investasi antara lain dapat berupa :
          (1) Pembayaran kas untuk membeli aktiva tetap, aktiva tak berwujud, dan aktiva jangka panjang lain, termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan aktiva tetap yang dibangun sendiri;
          (2) Penerimaan kas dari penjualan tanah, bangunan dan peralatan, aktiva tidak berwujud, dan aktiva jangka panjang lain;
          (3) Perolehan saham atau instrumen keuangan perusahaan lain.
          (4) Uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain serta pelunasannya.
          (5) Pembayaran kas sehubungan dengan futures contracts, forward contracts,option contracts dan swap contracts, kecuali apabila kontrak tersebut dilakukan untuk tujuan perdagangan (dealing or trading), atau apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.
          (6) Hasil penjualan atau jatuh tempo atas efek yang tersedia untuk dijual dan efek yang dimiliki hingga jatuh tempo merupakan arus kas dari aktivitas investasi.
          (7) Kas yang dikeluarkan untuk pembelian efek yang tersedia untuk dijual dan efek yang dimiliki hingga jatuh tempo termasuk dalam aktivitas investasi.
                         
      3) Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
                     
        a) Arus kas dari aktivitas pendanaan adalah arus kas yang timbul dari penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan transaksi pendanaan jangka panjang dengan  kreditur dan pemegang saham perusahaan.
        b) Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan antara lain dapat berupa :
          (1) penerimaan kas dari emisi saham atau instrumen modal lainnya.
          (2) pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk menarik atau menebus saham perusahaan.
          (3)  penerimaan kas dari emisi obligasi, pinjaman, wesel, hipotik, dan pinjaman lainnya.
          (4) Pelunasan pinjaman; atau
          (5) Dividen yang dibayar dapat diklasifikasikan sebagai arus kas pendanaan karena merupakan biaya perolehan sumber daya keuangan
          (6) Pembayaran Hutang Sewa Guna Usaha.
                         
    b. Ketentuan Penyajian Laporan Arus Kas
       
      1) Arus kas dari bunga dan dividen yang diterima dan dibayarkan, masing-masing harus diungkapkan tersendiri. Bunga dan dividen harus diklasifikasikan secara konsisten antar periode sebagai aktivitas operasi, investasi, atau pendanaan, berdasarkan sumber dan tujuan penggunaannya. Bunga dan dividen yang diterima harus diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi atau investasi. Bunga yang dibayarkan diklasifikasikan sebagai arus kas dari aktivitas operasi atau pendanaan, sedangkan dividen yang dibayarkan diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.
                     
      2) Jumlah bunga yang dibayarkan selama suatu periode diungkapkan dalam laporan arus kas baik yang telah diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi maupun yang dikapitalisasi menurut alternatif perlakuan yang diperkenankan oleh PSAK.
                     
      3) Arus kas yang berasal dari transaksi dalam valuta asing harus dibukukan dalam mata uang yang digunakan dalam pelaporan keuangan dengan menjabarkan jumlah mata uang asing tersebut menurut kurs pada tanggal arus kas.
                     
      4) Keuntungan dan kerugian yang belum  direalisasi yang timbul akibat perubahan kurs bukan merupakan arus kas. Namun demikian, pengaruh perubahan kurs terhadap kas dan  setara kas dalam mata uang asing dilaporkan dalam laporan arus kas untuk merekonsiliasikan saldo awal dan akhir kas dan setara kas. Jumlah selisih kurs tersebut disajikan terpisah dari arus kas aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.
                     
      5) Jika suatu kontrak dimaksudkan untuk menangkal (hedge) suatu posisi yang dapat diidentifikasi, maka arus kas dari kontrak tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.
                     
      6) Perusahaan harus menyajikan secara terpisah kelompok utama penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto yang berasal dari aktivitas investasi dan pendanaan,  kecuali aktivitas berikut, yang disajikan menurut arus kas bersih, yaitu:
        a) Penerimaan dan pengeluaran  kas untuk kepentingan para pelanggan, apabila arus kas tersebut lebih mencerminkan aktivitas pelanggan daripada aktivitas perusahaan, misalnya penerimaan dan pembayaran rekening giro.
        b) Penerimaan dan pengeluaran kas untuk pos-pos dengan perputaran cepat, dengan volume transaksi dengan jangka waktu singkat (short maturity), misalnya :

        (1) Pembelian dan penjualan surat-surat berharga; dan
          (2) Pinjaman jangka pendek lain dengan jangka waktu 3 (tiga) bulan atau kurang.
                         
      7) Arus kas sehubungan dengan pos luar biasa harus diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, investasi, atau pendanaan sesuai dengan sifat transaksinya dan disajikan tersendiri.
                     
    c)  Pengungkapan Aktivitas Yang Tidak Mempengaruhi Arus Kas
       
      Transaksi investasi dan pendanaan yang tidak memerlukan penggunaan kas atau setara kas harus disajikan  dalam kelompok ‘Aktivitas yang Tidak Mempengaruhi Arus Kas’ dalam laporan arus kas. Transaksi tersebut harus diungkapkan sedemikian rupa pada catatan atas laporan keuangan sehingga dapat memberikan semua informasi yang relevan mengenai aktivitas investasi dan pendanaan tersebut. Transaksi tersebut dapat berbentuk:
       
      1) Perolehan aktiva secara kredit atau melalui sewa guna usaha pembiayaan (finance lease).
      2) Akuisisi perusahaan melalui emisi saham
      3) Konversi hutang menjadi modal; atau



4) Kapitalisasi biaya pinjaman
                     
C. Pedoman Pengungkapan Laporan Keuangan 
  1. Catatan atas Laporan Keuangan 
    a. Pengertian
      Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan :
      1) Gambaran umum perusahaan ikhtisar kebijakan akuntansi, penjelasan pos-pos laporan keuangan dan informasi lainnya
      2) Informasi tentang dasar penyusunan  laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi yang penting;
      3) Informasi yang diwajibkan dalam PSAK tetapi tidak disajikan dalam neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas;
      4) Informasi lain yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.
    b. Pos-pos yang nilainya material, harus dirinci dan dijelaskan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Sedangkan untuk pos-pos yang bersifat khusus untuk industri perdagangan, harus dirinci dan dijelaskan pada Catatan atas Laporan Keuangan tanpa mempertimbangkan materialitasnya.
    c. Pos hasil penggabungan beberapa akun sejenis dirinci dan dijelaskan sifat dari unsur utamanya dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
    d. Aktiva yang dijaminkan harus diungkapkan dalam penjelasan masingmasing pos. Apabila aktiva perusahaan diasuransikan, harus diungkapkan jenis dan nilai aktiva yang diasuransikan, nilai pertanggungan asuransi serta pendapat manajemen atas kecukupan pertanggungan asuransi. Dalam hal tidak diasuransikan, harus diungkapkan alasannya.
    e. Pedoman ini tidak menentukan bentuk  penyajian Catatan atas Laporan Keuangan. Namun demikian, pengungkapannya mencakup tetapi tidak terbatas pada unsur-unsur yang diuraikan dalam angka 2 berikut ini.
  2. Unsur-unsur Catatan atas Laporan Keuangan 
    a. Gambaran Umum Perusahaan 
      Bagian ini berisi penjelasan tentang hal-hal umum  yang penting untuk diungkapkan berkaitan dengan perusahaan yang bersangkutan, mencakup :
      1) Pendirian Perusahaan
        Penjelasan mengenai pendirian perusahaan beserta perubahan terhadap anggaran dasar, yang antara lain meliputi :
        a)  Riwayat perusahaan,
        b) Akta Pendirian dan perubahan anggaran dasar terakhir, pengesahan oleh Menteri Kehakiman atau pengumuman pada Lembaran Berita Negara.
        c) Tempat kedudukan perusahaan dan tempat toko beroperasi.
      2) Bidang usaha utama perusahaan  sesuai dengan anggaran dasar perusahaan dan kegiatan usaha yang dijalankan.
      3) Tanggal mulai beroperasinya perusahaan secara komersial. Apabila perusahaan melakukan ekspansi atau penciutan usaha secara signifikan pada periode laporan yang disajikan, harus disebutkan saat dimulainya operasi komersial dari ekspansi  atau penciutan perusahaan dan kapasitas produksinya.
    b. Penawaran Umum Efek Perusahaan
      Penjelasan penawaran umum efek perusahaan yang meliputi tanggal efektif penawaran umum perdana, kebijakan/tindakan perusahaan yang dapat mempengaruhi efek yang diterbitkan (corporate action) sejak penawaran umum perdana sampai dengan periode pelaporan terakhir, jenis dan jumlah efek yang ditawarkan pada saat penawaran terakhir, dan tempat pencatatan efek perusahaan.
    c. Karyawan, Direksi dan Dewan Komisaris
      Yang harus diungkapkan antara lain :
      1) Nama anggota direksi dan dewan komisaris,
      2) Jumlah karyawan pada akhir periode atau rata-rata jumlah karyawan selama periode yang bersangkutan.
    d. Ikhtisar Kebijakan Akuntansi
      Dalam bagian ini harus diungkapkan sebagai berikut :
      1) Dasar Pengukuran dan Penyusunan Laporan Keuangan
        Yang harus dijelaskan adalah :
        a) Dasar pengukuran laporan keuangan yaitu berdasarkan nilai historis (historical cost) namun untuk beberapa transaksi atau akun berdasarkan standar akuntansi  yang berlaku dimungkinkan untuk mengukurnya dengan, nilai kini  (current cost),  nilai realisasi (realizable value), nilai wajar (fair value) atau nilai terendah antara biaya dan harga pasar.
        b) Asumsi Dasar dalam penyusunan laporan keuangan, adalah yaitu dasar akrual kecuali untuk laporan arus kas.
        c) Mata uang pelaporan yang digunakan dan alasannya, apabila mata uang pelaporan bukan rupiah. Apabila terdapat perubahan mata uang pelaporan, diungkapkan alasannya, kurs yang digunakan dalam pengukuran kembali atau penjabaran, dan ikhtisar neraca dan laporan laba rugi yang disajikan sebagai perbandingan dalam mata uang sebelumnya
        d) Alasan perubahan periode pelaporan.
      2) Kebijakan akuntansi tertentu yang diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi penting 
        Kebijakan akuntansi meliputi, tetapi tidak terbatas pada hal-hal sebagai berikut :
        a)  Kas dan Setara Kas 
          Yang harus dijelaskan adalah unsur-unsur Kas dan Setara Kas.
        b) Piutang 
          Yang harus dijelaskan adalah :
          (1)  Dasar penetapan penyisihan piutang ragu-ragu yang dapat berupa :
            (a) Penelaahan terhadap masing-masing piutang pada akhir periode, atau
            (b) Dasar estimasi lainnya bila penelaahan terhadap masingmasing piutang tidak praktis untuk dilakukan. Dalam hal ini diungkapkan rumusan yang digunakan.
          (2) Kebijakan akuntansi mengenai anjak piutang baik  without recourse maupun with recourse.
        c) Persediaan
          Yang harus dijelaskan adalah :
          (1) Pengakuan nilai persediaan, yaitu berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih secara agregat, mana yang lebih rendah, (the lower of cost or net realizable value). Untuk perusahaan eceran (retail)  net realizable value dihitung dengan menggunakan metode retail konvensional.
          (2) Rumus biaya persediaan.
          (3) Rumus yang digunakan apakah biaya masuk pertama keluar pertama (MPKP atau FIFO), rata-rata tertimbang (weighted average cost method), atau masuk terakhir keluar pertama (MTKP atau LIFO) atau identifikasi khusus (specific identification)
          (4) Metode penyisihan untuk persediaan usang (obsolete) dan persediaan yang perputarannya lambat (slow moving). 
        d) Investasi Efek
          Yang harus dijelaskan adalah :
          (1) Kelompok investasi dalam bentuk surat berharga (efek), baik yang berupa efek hutang (debt securities) dan efek ekuitas (equity securities), yaitu surat berharga dalam kelompok diperdagangkan (trading securities), dimiliki hingga jatuh tempo (held to maturity) dan tersedia untuk dijual (available for sale).
          (2) Pengakuan nilai pada investasi  dalam bentuk surat berharga, untuk setiap kelompok surat berharga.
          (3) Metode  akuntansi yang digunakan dalam pencatatan penyertaan (metode ekuitas atau biaya).
        e) Investasi selain Efek
          Yang harus dijelaskan adalah :
          (1) Penentuan nilai tercatat investasi 
          (2) Perlakuan perubahan nilai pasar investasi lancar yang dicatat berdasarkan harga pasar
          (3) Perlakuan surplus revaluasi atas penjualan investasi yang dinilai kembali.
        f) Aktiva Tetap
          Yang harus dijelaskan adalah :
          (1) Dasar pengukuran yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto aktiva tetap.
          (2) Kriteria Kapitalisasi biaya  perbaikan dan perawatan, penurunan nilai (impairment) dan penilaian kembali aktiva tetap (revaluasi).
          (3) Metode penyusutan yang digunakan.
          (4) Masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan.
          (5) Dasar pengukuran aktiva dalam penyelesaian
          (6) Pertanggungan Asuransi
          (7) Status kepemilikan Aktiva Tetap yang dikuasai Perusahaan, baik yang sedang dalam proses balik nama maupun yang masih atas nama pihak lain
        g) Sewa Guna Usaha
          Yang harus dijelaskan adalah :
          (1) Dasar perlakuan transaksi sewa guna usaha sebagai capital lease 
          (2) Perlakuan laba/rugi transaksi penjualan dan penyewaan kembali (sale and leaseback).
        h) Aktiva Tidak Berwujud 
          Yang harus dijelaskan adalah :
          (1) Kebijakan akuntansi untuk tiap jenis aktiva
          (2) Metode amortisasi yang digunakan. 
          (3) Masa manfaat atau tarif amortisasi yang digunakan.
          (4) Untuk biaya pengembangan, agar dijelaskan juga dasar kapitalisasinya.
        i) Aktiva Lain-Lain
          Yang harus dijelaskan adalah :
          (1) Dasar pengelompokan suatu aktiva menjadi aktiva lain-lain
          (2) Kebijakan akuntansi untuk tiap jenis aktiva
        j) Penurunan Nilai Aktiva
          Yang harus dijelaskan :
          (1) Dasar pengukuran (metode dan asumsi) penurunan nilai aktiva,
          (2) Perlakuan akuntansi terhadap penurunan nilai dan pemulihan nilai aktiva
        k) Kerjasama Operasi
          Yang harus dijelaskan antara lain :
          (1) Bentuk atau pola Kerjasama operasi
          (2) Kebijakan akuntansi untuk setiap jenis aktiva dan kewajiban yang timbul
          (3) Sistem pembagian hasil KSO
        l) Restrukturisasi Hutang Bermasalah
          Yang harus dijelaskan adalah pengakuan keuntungan neto atas restrukturisasi hutang jika ada
        m) Pengakuan Pendapatan
          Yang harus dijelaskan dasar atau saat pengakuan pendapatan, misalnya saat barang diserahkan.
        n) Biaya Pinjaman
          Yang harus dijelaskan adalah kebijakan pembebanan atau kapitalisasi, unsur-unsur biaya  pinjaman, aktiva yang  memenuhi syarat (qualifying assets). 
        o) Pajak Penghasilan
          Yang harus dijelaskan adalah metode akuntansi pajak penghasilan yang digunakan dengan menyebutkan akun-akun yang menimbulkan pajak tangguhan.
        p) Program Pensiun
          Yang harus dijelaskan adalah :
          (1) Jenis program pensiun
          (2) Dasar perhitungan dari iuran pensiun, misalnya dengan menggunakan perhitungan dari jasa aktuaris
        q) Laba(Rugi) Per Saham
          Yang harus dijelaskan adalah :
          (1) Dasar penentuan pembilang yang digunakan dalam penghitungan laba (rugi) per saham dasar dan dilusian, atau perhitungan per Sertifikat Penitipan Efek (SPE).
          (2) Dasar penentuan penyebut yang digunakan dalam penghitungan laba (rugi) per saham dasar dan dilusian, atau perhitungan per Sertifikat Penitipan Efek (SPE).
          (3) Bila jumlah saham biasa atau efek berpotensi saham biasa yang beredar bertambah sebagai  akibat dari kapitalisasi, penerbitan saham bonus atau pemecahan saham (stock-split) atau berkurang sebagai akibat pembalikan pemecahan saham (reversed stock-split) maka perhitungan laba (rugi) per saham dasar dan dilusian untuk semua periode yang disajikan harus disesuaikan (retrospektif)
        r) Transaksi dan Saldo dalam  Mata Uang Asing
          Yang harus dijelaskan adalah :
          (1) Kurs yang digunakan untuk membukukan transaksi dalam mata uang asing.
          (2) Kurs tanggal neraca yang digunakan, yaitu kurs beli bank untuk menjabarkan pos aktiva moneter dan kurs jual bank untuk menjabarkan pos kewajiban moneter. Kurs yang digunakan adalah kurs pada bank di mana perusahaan melakukan sebagian besar transaksi valuta asing. Sebagai perbandingan harus diungkapkan juga kurs jual dan beli Bank Indonesia pada tanggal neraca.
          (3) Perlakuan akuntansi selisih kurs yang timbul dari penjabaran aktiva dan kewajiban moneter
        s) Instrumen Derivatif
          Yang harus dijelaskan adalah :
          (1) Perlakuan akuntansi sesuai tujuan transaksi derivatif.
          (2) Dasar pengukuran (nilai wajar atau nilai lainnya).
          (3) Kriteria pengakuan laba rugi, yaitu selisih nilai wajar dan nilai tercatat dilaporkan pada laba  rugi periode berjalan kecuali yang memenuhi kriteria pendapatan komprehensif lain.
        t) Segmen Usaha
          Yang harus dijelaskan adalah :
          (1) Dasar yang digunakan untuk mengidentifikasi segmen
          (2) Dasar yang digunakan untuk  menggolongkan suatu segmen sebagai segmen primer dan sekunder
          (3) Dasar yang digunakan untuk mengalokasikan  pendapatan, beban, dan aktiva dalam setiap segmen
                 
    e. Pengungkapan atas Pos-Pos Laporan Keuangan dan Pengungkapan Lainnya 
      Bagian ini menjelaskan hal-hal yang penting untuk diungkapkan pada tiap-tiap pos, yang dapat mempengaruhi pembaca dalam pengambilan keputusan, yang disusun dengan memperhatikan urutan penyajian Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas dan Laporan Arus Kas, serta informasi tambahan.
      Pengungkapan pos-pos laporan keuangan dan pengungkapan lainnya sebagai berikut:
      1) Kas dan Setara Kas 
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Unsur kas dan setara kas dipisahkan antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa dan pihak ketiga
        b) Rincian jumlah penempatan di bank berdasarkan nama bank serta jenis mata uang




c) Kisaran tingkat bunga dari setara kas selama periode pelaporan
      2) Investasi Jangka Pendek
        Yang harus diungkapkan antara lain pengungkapan terpisah antara jenis investasi sementara deposito atau surat berharga (efek).
        a) Untuk deposito, pengungkapan mencakup hal-hal sebagai berikut:
          (1) Bank tempat dana ditempatkan yang dipisahkan antara pihak ketiga dan pihak yang mempunyai hubungan istimewa,
          (2) Kisaran suku bunga deposito selama periode pelaporan,
          (3) Jumlah deposito dan jenis mata uang
          (4) Hal-hal yang dapat mepengaruhi kualitas pencairan deposito tersebut.
        b) Pengelompokan efek sesuai kategorinya dan dipisahkan antara pihak ketiga dan pihak yang mempunyai hubungan istimewa:
          (1) Efek yang diperdagangkan (trading securities),
          (2) Efek yang dimiliki hingga jatuh tempo (held to maturity),
          (3) Efek yang tersedia untuk dijual (available for sale),
          (4) Pengungkapan lain dari masing-masing efek yang meliputi :
            (a) Nilai wajar agregat. (marked to market);
            (b) Metode dan asumsi yang  digunakan dalam menentukan nilai wajar Efek;
            (c) Keuntungan (kerugian) yang belum direalisasi dari pemilikan efek tersedia untuk dijual;
            (d) Biaya perolehan termasuk jumlah premi dan diskonto yang belum diamortisasi, untuk efek dimiliki hingga jatuh tempo;
            (e) Peringkat efek hutang berikut nama pemeringkat (jika ada);
            (f) Uraian tentang alasan diambilnya keputusan menjual atau memindahkan kelompok efek. 
      3) Wesel tagih
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Pihak penerbit
        b) Kisaran tingkat bunga, jatuh tempo, dan jenis mata uang
        c) Rincian berdasarkan sifat dan asal terjadinya (dari transaksi usaha atau lainnya)
        d) Jumlah penyisihan wesel tagih ragu-ragu, jika ada
      4) Piutang Usaha
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Pemisahan antara piutang usaha kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa dan pihak ketiga,
        b) Jumlah piutang menurut debitur
        c) Jumlah piutang menurut mata uang,
        d) Jumlah piutang menurut umur (aging schedule),
        e) Jumlah penyisihan piutang ragu-ragu, beban piutang ragu-ragu dan penghapusan piutang
        f) Pendapat manajemen akan kecukupan jumlah penyisihan
        g) Jumlah piutang yang dijaminkan dan nama pihak yang menerima jaminan
        h) Informasi piutang yang telah dijual secara with recourse meliputi :
          (1) jumlah piutang yang dialihkan, yang meliputi piutang retensi, beban bunga, jatuh tempo, dan ikatan penting lainnya yang diatur dalam perjanjian.
          (2) jaminan yang diberikan (jika ada),
      5) Piutang Lainnya
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Rincian jenis dan jumlah piutang, termasuk rincian jenis mata uang.
        b) Jumlah penyisihan piutang ragu-ragu, beban piutang ragu-ragu dan penghapusan piutang, jika ada
        c) Pendapat manajemen atas kecukupan jumlah penyisihan.
      6) Persediaan
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Total jumlah tercatat dan nilai tercatat menurut klasifikasi :
          (1) Barang dagang
          (2) Bahan persediaan lain
        b) Harga pasar persediaan
        c) Jumlah penyesuaian atas penurunan nilai persediaan
        d) Kondisi dan peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang diturunkan.
        e) Jumlah penyisihan atau penghapusan persediaan rusak atau usang
        f) Pendapat manajemen atas kecukupan penyisihan atau penghapusan  persediaan rusak atau usang
        g) Nilai tercatat persediaan yang  dijaminkan dan nama pihak yang menerima jaminan.
        h) Nilai persediaan yang diasuransikan, nilai pertanggungan asuransi dan risiko yang ditutup
        i) Pendapat manajemen atas kecukupan jumlah pertanggungan asuransi.
        j) Dalam situasi depresiasi rupiah luar biasa: jumlah selisih kurs yang dikapitalisasi, biaya pengganti (replacement cost) dan jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount).
        k) Penjelasan mengenai kerugian persediaan yang jumlahnya material atau sifatnya luar biasa, seperti bencana alam.
        l) Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi dan tingkat kapitalisasi yang dipergunakan, untuk persediaan yang memenuhi kriteria aktiva tertentu (qualifying asset).
      7) Pajak Dibayar di Muka
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Jenis  dan jumlah masing-masing pajaknya.
        b) Uraian mengenai jumlah restitusi pajak yang diajukan dan statusnya.
      8) Biaya Dibayar Dimuka
        Yang harus diungkapkan antara lain rincian menurut jenis dan jumlah.
      9) Aktiva Lancar Lain
        Yang harus diungkapkan antara lain rincian menurut jenis dan jumlah.
      10) Piutang Hubungan Istimewa
        Yang harus diungkapkan antara lain:
        a) Rincian jenis, nama pihak yang memiliki hubungan istimewa, dan jumlah piutang, menurut jenis mata uang.
        b) Alasan dan dasar pembentukan  penyisihan dan/atau penghapusan, transaksi terjadinya piutang, saat timbulnya piutang, nama debitur, sifat hubungan dengan debitur dan jumlahnya
        c) Jumlah penyisihan piutang ragu-ragu, beban piutang ragu-ragu dan penghapusan piutang
        d) Pendapat manajemen atas kecukupan jumlah penyisihan.
      11) Investasi pada Perusahaan Asosiasi
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Nama perusahaan dan persentase kepemilikan
        b) Rekonsiliasi nilai tercatat penyertaan pada awal dan akhir periode dengan memperlihatkan bagian laba rugi yang diakui dan dividen yang diperoleh pada periode berjalan serta penurunan permanen nilai penyertaan.
        c) Informasi lainnya menyangkut kegiatan perusahaan asosiasi, misalnya perusahaan asosiasi menerbitkan saham baru.



12) Investasi Jangka Panjang Lain
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Rincian menurut jenis investasi sebagai berikut :
          (1) Efek hutang dimiliki hingga jatuh tempo (held to maturity)
          (2) Efek hutang dan efek ekuitas tersedia untuk dijual (available for sale)
          (3) Properti
          (4) Investasi lainnya
        b) Pemisahan antara investasi pada pihak ketiga dan pihak yang mempunyai hubungan istimewa untuk investasi dalam efek hutang dan efek ekuitas, investasi dalam properti dan investasi lainnya.
        c) Pengungkapan investasi dalam efek hutang (dimiliki hingga jatuh tempo dan tersedia untuk dijual) adalah sebagai berikut:
          (1) Rincian efek hutang menurut penerbit, nilai nominal serta jenis mata uang, diskonto atau premium yang belum diamortisasi, nilai tercatat, tingkat bunga, dan tanggal jatuh tempo
          (2) Efek yang pembayarannya dijamin dengan hipotik diungkapkan secara terpisah
          (3) Persyaratan efek hutang
          (4) Nilai wajar agregat
          (5) Metode dan asumsi yang digunakan dalam menentukan nilai wajar efek.
          (6) Laba (rugi) yang belum direalisasi dari efek tersedia untuk dijual (available for sale).
          (7) Peringkat efek hutang berikut nama pemeringkat, jika ada.
        d) Untuk efek ekuitas tersedia untuk dijual harus diungkapkan :
          (1) Nilai wajar agregat
          (2) Metode dan asumsi yang digunakan dalam menentukan nilai wajar efek.
          (3) Laba (rugi) yang belum direalisasi.
        e) Uraian tentang alasan diambilnya keputusan menjual, mengubah jenis atau memindahkan kelompok efek.
        f) Pengungkapan investasi dalam efek yang menggunakan metode biaya (cost method), adalah :
          (1) Nama perusahaan dan persentase yang dimiliki, nilai tercatat penyertaan
          (2) Alasan tidak dapat ditentukannya nilai wajar efek.
          (3) Ikhtisar nilai tercatat Mutasi penyertaan dengan menyajikan saldo awal, penambahan dan  pengurangan penyertaan serta penurunan permanen nilai penyertaan
        g) Pengungkapan investasi dalam bentuk properti meliputi jenis/uraian, lokasi, biaya perolehannya dan nilai wajarnya.
        h) Pengungkapan investasi jangka panjang lainnya meliputi jenis dan nilai wajarnya.
        i) Apabila investasi jangka panjang dijaminkan, syarat-syarat dan kondisi yang berdampak signifikan bagi perusahaan harus dinyatakan dan diungkapkan baik jumlah maupun pihak penerima jaminan.
        j) Kondisi atau peristiwa yang menyebabkan terjadinya penurunan nilai atau pemulihan penurunan nilai.
        k) Rugi penurunan nilai yang diakui  selama periode berjalan dan komponen Laporan Laba Rugi  dimana kerugian tersebut dilaporkan . Pengungkapan dilakukan untuk setiap jenis investasi.
        l) Pemulihan kerugian penurunan nilai yang diakui selama periode berjalan dan komponen Laporan Laba Rugi dimana kerugian tersebut dilaporkan. Pengungkapan  dilakukan untuk setiap jenis investasi.
      13) Aktiva Tetap
        a) Pemilikan langsung
          Yang harus diungkapkan antara lain :
          (1) Rincian aktiva tetap menurut  jenisnya, seperti; tanah, bangunan, mesin,  kendaraan bermotor, peralatan kantor.
          (2) Akumulasi penyusutan masing-masing jenis aktiva tetap
          (3) Jumlah penyusutan pada tahun berjalan dan alokasi biaya penyusutan pada laporan laba rugi;
          (4) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang memperlihatkan penambahan dan pelepasan.
          (5) Nilai aktiva tetap yang diasuransikan,  nilai pertanggungan dan risiko yang ditutup.
          (6) Pendapat manajemen atas kecukupan jumlah pertanggungan asuransi.
          (7) Untuk setiap kejadian luar biasa, harus diungkapkan :
            (a) Jenis aktiva yang mengalami kerusakan dan penyebab kerusakannya
            (b) Nilai buku aktiva tersebut
            (c) Jumlah klaim yang disetujui
            (d) Kerugian yang timbul dari nilai pertanggungan yang tidak ditutup oleh asuransi
          (8) Jika dilakukan penilaian kembali pada periode yang disajikan, harus diungkapkan :
            (a) Dasar hukum yang digunakan untuk menilai kembali aktiva.
            (b) Tanggal efektif penilaian kembali.
            (c) Nama penilai independen.
            (d) Dasar yang dipergunakan untuk menentukan nilai revaluasi.
            (e) Nilai  tercatat setiap jenis aktiva tetap.
            (f) Selisih penilaian kembali setiap jenis aktiva tetap.
          (9) Pengungkapan menurut jenis aktiva tetap yang mengalami perubahan estimasi masa guna dan/atau metode depresiasi.
          (10)  Aktiva tetap yang dijaminkan dan nama pihak yang menerima jaminan
          (11) Penurunan nilai aktiva tetap :
            (a) Kondisi atau peristiwa yang menyebabkan terjadinya penurunan nilai atau pemulihan penurunan nilai.
            (b) Rugi penurunan nilai yang diakui selama periode berjalan dan komponen Laporan Laba Rugi dimana kerugian tersebut dilaporkan. Pengungkapan dilakukan untuk setiap jenis aktiva tetap.
            (c) Pemulihan kerugian penurunan  nilai yang diakui selama periode berjalan dan komponen Laporan Laba Rugi dimana kerugian tersebut dilaporkan. Pengungkapan dilakukan untuk setiap jenis aktiva tetap.
          (12) Pengungkapan nilai buku, hasil penjualan bersih, keuntungan/kerugian dari aktiva tetap yang dijual.
          (13) Status kepemilikan Aktiva Tetap yang dikuasai perusahaan, baik yang sedang dalam proses balik nama maupun yang masih atas nama pihak lain.
        b) Aktiva Sewa Guna Usaha
          Yang harus diungkapkan antara lain :
          (1) Rincian aktiva sewa guna usaha berdasarkan nilai tunai seluruh pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus dibayar pada akhir masa sewa guna usaha. Di samping itu dijelaskan mengenai akumulasi penyusutan masing-masing kelompok aktiva sewa guna usaha dan jumlah beban penyusutan pada periode berjalan,
          (2) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang memperlihatkan penambahan dan pengurangan.
        c) Aktiva dalam Penyelesaian 
          Yang harus diungkapkan antara lain :
          (1) Rincian aktiva yang sedang dalam penyelesaian;
          (2) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang memperlihatkan penambahan dan pengurangan pelepasan
          (3) Persentase jumlah tercatat terhadap nilai kontrak.
          (4) Estimasi saat penyelesaian proyek
          (5) Hambatan kelanjutan penyelesaian proyek, jika ada
          (6) Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi pada periode pelaporan.



14) Aktiva Tak Berwujud 
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Masa manfaat atau tingkat amortisasi yang digunakan
          Apabila perusahaan mengamortisasi aktiva tidak berwujud lebih dari  20 tahun maka harus diungkapkan alasan dan faktor-faktor penting dalam penentuan penentuan masa manfaat aktiva tidak berwujud.
        b) Metode amortisasi yang digunakan
        c) Nilai tercatat bruto dan akumulasi amortisasi (yang digabungkan dengan akumulasi rugi penurunan  nilai) pada awal dan akhir periode
        d) Unsur pada laporan keuangan yang di dalamnya terdapat amortisasi aktiva tidak berwujud
        e) Rekonsiliasi nilai tercatat pada awal dan akhir periode dengan menunjukkan :
          (1) Penambahan aktiva tidak berwujud yang terjadi, dengan mengungkapkan secara terpisah penambahan yang berasal dari pengembangan di dalam perusahaan dan penggabungan usaha
          (2) Penghentian dan pelepasan aktiva tidak berwujud
          (3) Rugi penurunan nilai (jika ada) yang diakui pada laporan laba rugi periode berjalan.
          (4) Rugi penurunan nilai yang dibalik pada laporan laba rugi periode berjalan (jika ada)
          (5) Amortisasi yang diakui selama periode berjalan
          (6) Perubahan lainnya dalam nilai tercatat selama periode berjalan
        f) Penjelasan nilai tercatat dan periode amortisasi yang tersisa dari setiap aktiva tidak berwujud yang material bagi laporan keuangan secara keseluruhan.
        g) Keberadaan dan nilai tercatat  aktiva tidak berwujud yang hak penggunaannya dibatasi dan nilai tercatat aktiva tidak berwujud yang ditentukan sebagai jaminan atas utang
        h) Jumlah komitmen untuk memperoleh aktiva tidak berwujud
        i) Jumlah keseluruhan pengeluaran riset dan pengembangan yang diakui sebagai beban periode berjalan 
      15) Aktiva Lain-lain
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Rincian akun aktiva lain-lain yaitu aktiva tetap yang tidak digunakan, biaya praoperasi, uang muka investasi dan uang muka pembelian aktiva tetap dan sebagainya,
        b) Uraian mengenai sifat masing-masing akun,
        c) Jumlah amortisasi untuk beban ditangguhkan
        d) Alasan perubahan klasifikasi  aktiva yang sebelumnya tidak termasuk dalam aktiva lain-lain.
        e) Setiap jenis aktiva tetap yang sudah tidak dapat digunakan secara aktif dan dipegang untuk tujuan dijual (scrapped), nilai bukunya, nilai realisasi  bersih.
      16) Pinjaman Jangka Pendek
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Pemisahan antara hutang pada pihak ketiga dengan pihak hubungan istimewa.
        b) Rincian hutang berdasarkan jenis hutang, nama kreditur, jenis mata uang serta nilainya.
        c) Kisaran tingkat bunga dan saat jatuh tempo
        d) Jaminan yang diberikan dengan menunjuk akun-akun yang berhubungan.
        e) Persyaratan lain yang penting, seperti adanya pembatasan pembagian dividen, pembatasan rasio tertentu, dan atau pembatasan perolehan hutang baru
        f) Penjelasan mengenai kondisi hutang, misalnya kondisi default.
        g) Untuk Kewajiban Anjak Piutang dengan recourse :
          (1) Kewajiban anjak piutang
          (2) Retensi
          (3) Bunga yang belum diamortisasi
          (4) Kewajiban anjak piutang bersih.
      17) Wesel Bayar
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Rincian jenis, nilai nominal dan  nilai tercatat dalam rupiah dan valuta asing, tanggal jatuh tempo, dan tingkat bunga.
        b) Penjelasan tentang jaminan dan persyaratan lain
        c) Penjelasan mengenai kondisi wesel bayar, misalnya kondisi default
      18) Hutang Usaha
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Pemisahan antara hutang usaha pada pihak ketiga dan pihak yang memiliki hubungan istimewa.
        b) Jumlah hutang usaha yang timbul dari transaksi konsinyasi
        c) Rincian berdasarkan jenis mata uang dan nilainya
        d) Sifat dari transaksi (contoh: pembelian barang dagang).
        e) Jaminan yang diberikan oleh perusahaan dengan menunjuk akunakun yang berhubungan.
      19) Hutang Pajak
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Jenis dan jumlahnya,
        b) Informasi mengenai ketetapan pajak yang signifikan,
      20) Beban Masih Harus Dibayar
        Yang harus diungkapkan antara lain jenis dan jumlah biaya dari unsur utama beban yang belum jatuh tempo.
      21) Pendapatan Diterima Dimuka
        Yang harus diungkapkan antara lain: jenis dan jumlah pendapatan diterima dimuka yang belum diberikan manfaatnya
      22) Kewajiban Jangka Panjang Yang Akan Jatuh Tempo dalam Waktu 1 Tahun
        Yang harus diungkapkan antara lain rincian jenis dan jumlahnya
      23) Kewajiban Lancar Lain-lain
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Jenis dan jumlahnya,
        b) Untuk kewajiban jangka panjang yang default, harus diungkapkan alasan penyebab default dan langkah-langkah penyelesaian.
        c) Untuk kewajiban diestimasi :
          (1) Rekonsiliasi nilai tercatat pada awal dan akhir periode yang mencakup penambahan dan pengurangan kewajiban serta jumlah yang dibebankan pada periode berjalan.
          (2) Jumlah kewajiban yang dibatalkan pada periode berjalan.
          (3) Uraian singkat mengenai kewajiban diestimasi dan perkiraan saat arus keluar sumber daya yang terjadi.
          (4) Diungkapkan asumsi yang mendasari suatu peristiwa jika terjadi ketidakpastian saat atau jumlah arus keluar sumber daya tersebut.
        d) Untuk beban tangguhan atas perjanjian kepegawaian seperti jaminan kesehatan masa pensiun :
          (1) Uraian mengenai jaminan,
          (2) Jumlah yang berhak atas jaminan tersebut.
      24) Hutang Hubungan Istimewa
        Yang harus diungkapkan antara lain : rincian jenis dan jumlah termasuk jenis mata uang,  nama pihak yang memiliki hubungan istimewa. 
      25) Pinjaman Jangka Panjang
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Rincian hutang berdasarkan nama  kreditur, jenis mata uang serta nilainya,
        b) Jumlah bagian yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 (duabelas) bulan yang disajikan sebagai kewajiban lancar,
        c) Kisaran tingkat bunga selama pelaporan dan saat jatuh tempo,
        d) Penjelasan tentang fasilitas pinjaman yang diperoleh, termasuk jumlah dan tujuan perolehannya,
        e) Penjelasan mengenai kondisi hutang (misalnya kondisi default) termasuk status restrukturisasi hutang.
        f) Jaminan yang diberikan dengan menunjuk akun-akun yang berhubungan.
        g) Persyaratan lain yang penting, seperti adanya pembatasan pembagian dividen, pembatasan rasio tertentu, dan atau pembatasan perolehan hutang baru.
        h) Pengungkapan informasi sehubungan dengan kewajiban yang akan jatuh tempo dalam jangka waktu 12 (duabelas) bulan sejak tanggal neraca, tetapi (1) kesepakatan  awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari 12 (duabelas) bulan dan (2) perusahaan bermaksud membiayai kembali kewajibannya dengan pendanaan jangka panjang dan didukung dengan perjanjian pembiayaan atau penjadualan kembali pembayaran yang resmi disepakati sebelum laporan keuangan disetujui; sehingga tetap diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang, antara lain adalah :
          (1) Nama kreditur dan jumlahnya;
          (2) Ringkasan perjanjian lama dan  baru yang meliputi tanggal kesepakatan, jangka waktu pinjaman, tanggal jatuh tempo, dan persyaratan penting.
      26) Hutang Sewa Guna Usaha 




Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Rincian perusahaan sewa guna usaha (lessor), jenis aktiva yang disewagunausahakan dan nilainya.
        b) Jumlah angsuran sewa guna usaha tahunan, paling tidak untuk 2 (dua) tahun berikutnya, bagian bunga dan nilai tunainya.
        c) Jumlah bagian yang akan jatuh  tempo dalam waktu satu tahun yang disajikan sebagai kewajiban lancar.
        d) Jaminan yang diberikan sehubungan dengan sewa guna usaha.
        e) Ikatan-ikatan penting yang dipersyaratkan dalam perjanjian sewa guna lainnya (major covenants), termasuk jaminan lain yang diberikan.
      27) Keuntungan Tangguhan Aktiva  Dijual dan Sewagunausaha Kembali
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Rincian keuntungan (kerugian)  yang ditangguhkan berdasarkan jenis aktiva
        b) Periode amortisasi keuntungan (kerugian)
        c) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang memperlihatkan penambahan dan pengurangan (amortisasi) tahun berjalan.
      28) Hutang Obligasi
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Rincian mengenai jenis, nilai nominal serta jenis mata uang, nilai tercatat dalam rupiah dan valuta asing, tanggal jatuh tempo, jadwal pembayaran bunga, dan tingkat bunga, serta tempat pencatatan,
        b) Peringkat (rating) dan nama pemeringkat (rating agency),
        c) Jumlah bagian yang akan jatuh  tempo dalam waktu satu tahun yang disajikan sebagai kewajiban lancar,
        d) Nama wali amanat dan keterkaitan usaha dengan perusahaan
        e) Jaminan serta pembentukan dana untuk pelunasan hutang pokok obligasi dengan menunjuk akun-akun yang berhubungan,
        f) Persyaratan lain yang penting, seperti adanya pembatasan pembagian dividen, pembatasan rasio tertentu, dan atau pembatasan perolehan hutang baru,
        g) Kejadian penting lainnya termasuk kepatuhan perusahaan dalam memenuhi persyaratan-persyaratan, dan kondisi hutang.
      29) Kewajiban Tidak Lancar Lainnya 
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Jenis dan jumlahnya, tingkat bunga, tanggal jatuh tempo
        b) Sifat kewajiban jangka panjang
        c) Jumlah bagian yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 (duabelas) bulan yang disajikan sebagai kewajiban lancar.
        d) Jaminan yang terkait dengan menunjuk akun-akun yang berhubungan.
      30) Hutang Subordinasi
        Yang harus diungkapkan antara lain nama kreditur dan sifat ikatannya, jenis valuta, jangka waktu dan kisaran tingkat bunganya.
      31) Obligasi Konversi
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Rincian mengenai jenis, nilai nominal dan nilai tercatat dalam rupiah dan mata uang asing,  tanggal jatuh tempo, jadwal pembayaran bunga, dan tingkat bunga, serta tempat pencatatan,
        b) Periode konversi dan persyaratan konversi, antara lain meliputi rasio konversi, harga pelaksanaan, hak konversi sebelum jatuh tempo serta persyaratannya, dan penalti.
        c) Dampak dilusi jika seluruh  obligasi dikonversikan, dengan memperhatikan tingkat konversi atau harga pelaksanaan (exercise price) yang paling menguntungkan dari sudut pandang pemegang obligasi konversi.
        d) Jumlah obligasi yang telah dikonversikan
        e) Peringkat (rating) dan nama pemeringkat (rating agency), jika ada
        f) Jumlah bagian yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 (duabelas) bulan yang disajikan sebagai kewajiban lancar,
        g) Nama wali amanat dan keterkaitan perusahaan dengan wali amanat tersebut.
        h) Jaminan serta pembentukan dana untuk pelunasan hutang pokok obligasi dengan menunjuk akun-akun yang berhubungan,
        i) Kejadian penting lainnya termasuk kepatuhan perusahaan dalam memenuhi persyaratan-persyaratan, dan kondisi hutang
        j) Dalam hal perusahaan menerbitkan obligasi konversi tanpa melalui penawaran umum juga harus diungkapkan tujuan penerbitan dan nama pembeli.
        k) Persyaratan lain yang penting, seperti adanya pembatasan pembagian dividen, pembatasan rasio tertentu, dan atau pembatasan perolehan hutang baru,
      32) Program Pensiun
        a) Yang harus diungkapkan apabila perusahaan menyelenggarakan program pensiun iuran pasti antara lain :
          (1) Gambaran umum tentang program pensiun, persentase iuran yang menjadi kontribusi perusahaan, manfaat, karyawan yang ikut menjadi peserta program pensiun, pengelolanya dan lain-lain.
          (2) Jumlah beban (iuran) pensiun dan iuran pensiun yang masih harus dibayar,
          (3) Hal-hal penting lainnya yang berhubungan dengan program pensiun yang dapat mempengaruhi daya banding laporan keuangan periode berjalan dan periode sebelumnya.
        b) Yang harus diungkapkan apabila perusahaan menyelenggarakan program pensiun manfaat pasti antara lain :
          (1) Gambaran umum tentang program pensiun, manfaat, karyawan yang ikut menjadi peserta program pensiun, dan pengelolanya.
          (2) Kebijakan pendanaan
          (3) Rincian beban pensiun yang terdiri dari beban jasa kini, amortisasi beban jasa lalu, amortisasi koreksi dan bunga atas beban pensiun yang masih harus dibayar, jangka waktu amortisasi beban jasa lalu.
          (4) Rekonsiliasi beban pensiun yang masih harus dibayar (dibayar dimuka)
          (5) Asumsi dan metode aktuarial yang digunakan aktuaris, nilai wajar aktiva bersih dana pensiun dan selisih lebih (kurang) antara kewajiban aktuarial dan nilai wajar aktiva bersih.
          (6) Bila dilakukan perubahan metode aktuarial, alasan perubahan, jumlah penyesuaian perubahan terhadap laporan keuangan periode berjalan, dan jumlah  penyesuaian yang berhubungan dengan masa sebelum periode penyajian.
          (7) Tanggal penilaian aktuaria terakhir, nama aktuaris, dan frekuensi penilaian dilakukan
          (8) Hal-hal penting lain yang  berhubungan dengan manfaat pensiun, termasuk dampak pembubaran, pengurangan peserta yang dapat mempengaruhi daya banding laporan keuangan.
 

33) Modal Saham
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Uraian jenis-jenis saham perusahaan.
        b) Perubahan yang terjadi pada modal saham, yang menjelaskan :
          (1) Keputusan yang berhubungan dengan perubahan modal saham tersebut, misalnya; pengesahan Menteri Kehakiman, keputusan RUPS.
          (2) Sumber Peningkatan modal saham antara lain dari kapitalisasi agio saham atau saldo laba, modal sumbangan dan tambahan modal disetor lainnya, selisih penilaian kembali aktiva tetap, penerbitan saham baru dari Penawaran Umum atau Penawaran  Umum Terbatas dengan atau tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (right issue dan private placement), pelaksanaan waran, konversi obligasi dan sebagainya.
          (3) Tujuan perubahan modal saham, antara lain dalam rangka ekspansi atau pelunasan hutang.
        c) Pihak-pihak yang memiliki saham, yaitu :
          (1) Nama pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih.
          (2) Direktur dan Komisaris yang memiliki saham.
          (3) Pemegang saham lainnya.
          Diungkapkan jumlah saham, persentase kepemilikan dan jumlah nilai nominal untuk masing-masing pemegang saham tersebut.
        d) Dalam hal hanya sebagian saham perusahaan yang dicatat di bursa efek, agar disebutkan jumlah saham, untuk saham yang tercatat serta yang tidak dicatatkan pada bursa efek.
      34) Tambahan Modal Disetor
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Agio Saham: diuraikan sumber agio saham selama periode yang disajikan.
        b) Biaya emisi efek ekuitas: dirinci berdasarkan penerbitan efek ekuitas.
        c) Modal Sumbangan: dirinci jenis aktiva dan jumlah.
        d) Selisih Kurs atas Modal Disetor : dijelaskan antara lain adalah sifat dan asal akun ini.
        e) Modal Disetor Lainnya : dijelaskan antara lain adalah sifat dan asal akun ini. Untuk waran diungkapkan secara terpisah nilai waran yang belum dan yang tidak dilaksanakan.



35) Selisih Kurs karena Penjabaran Laporan Keuangan 




Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Beda nilai tukar bersih yang diklasifikasikan dalam kelompok ekuitas sebagai suatu unsur yang terpisah
        b) Rekonsiliasi beda nilai tukar tersebut pada awal dan akhir periode.
        c) Alasan untuk menggunakan mata  uang yang berbeda jika mata uang pelaporan berbeda dengan mata uang negara tempat perusahaan berdomisili.
        d) Alasan untuk setiap perubahan dalam mata uang pelaporan.
        e) Jika terdapat suatu perubahan dalam klasifikasi suatu kegiatan usaha luar negeri yang signifikan, perusahaan harus mengungkapkan:
          (1) sifat perubahan dalam klasifikasi;
          (2) alasan perubahan;
          (3) dampak perubahan atas klasifikasi modal pemegang saham; dan
          (4) dampak pada laba atau rugi bersih untuk setiap periode sebelumnya jika perubahan klasifikasi terjadi pada periode sebelumnya yang paling awal.
      36) Selisih Transaksi Perubahan Ekuitas Perusahaan Asosiasi
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Transaksi yang menimbulkan selisih transaksi perubahan ekuitas perusahaan asosiasi.
        b) Jumlah selisih transaksi perubahan ekuitas yang menjadi bagian perusahaan setelah memperhitungkan dampak pajaknya.
        c) Jumlah yang direalisasi ke laba rugi atas pelepasan investasi.
      37) Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Dasar yang digunakan untuk menilai kembali aktiva 
        b) Tanggal efektif penilaian kembali aktiva tetap
        c) Nama penilai independen
        d) Hakekat setiap petunjuk yang digunakan untuk menentukan biaya pengganti
        e) Jumlah tercatat setiap jenis aktiva tetap
        f) Surplus penilaian kembali aktiva tetap
      38) Saldo Laba
        Yang perlu diungkapkan antara lain:
        a) Penjatahan (apropriasi) dan pemisahan saldo laba, menjelaskan jenis penjatahan dan pemisahan, tujuan penjatahan dan pemisahan saldo laba, serta jumlahnya. Perubahan akun-akun penjatahan atau pemisahan saldo laba, harus pula diungkapkan
        b) Peraturan, perikatan, batasan dan jumlah batasan di sekitar saldo laba, harus diungkapkan. Misalnya, selama perjanjian kredit berlangsung, perusahaan tak diizinkan membagi saldo laba tanpa seizin kreditur
        c) Perubahan saldo laba karena penggabungan usaha dengan metode penyatuan kepentingan (pooling of interests)
        d) Koreksi masa lalu, baik bruto maupun neto setelah pajak. Pengungkapan harus dilakukan dengan penjelasan bentuk kesalahan laporan keuangan terdahulu, dampak koreksi terhadap laba usaha, laba bersih dan nilai saham per lembar
        e) Tunggakan dividen, baik jumlah maupun per lembar saham
        f) Dividen saham dan pecah-saham (stock-split), pengungkapan jumlah yang dikapitalisasi dan saji ulang laba per saham (EPS) agar laporan keuangan berdaya banding
        g) Perubahan saldo laba pada periode bersangkutan dan persetujuan RUPS yang terkait, misalnya jumlah dividen yang dibayarkan, saldo laba yang ditentukan penggunaannya, dan lain-lain
      39) Modal Saham Diperoleh Kembali
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Tanggal RUPS yang menyetujui perolehan kembali saham
        b) Jumlah saham yang disetujui untuk diperoleh kembali
        c) Tanggal, jumlah, dan harga realisasi saham diperoleh kembali
        d) Metode pencatatan atas saham yang diperoleh kembali
      40) Waran
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Jenis waran (waran pisah, waran lekat dan waran bebas)
        b) Dasar penentuan nilai wajar waran,
        c) Nilai waran yang belum dilaksanakan dan nilai waran yang tidak dilaksanakan (kadaluarsa),
        d) Jumlah waran yang diterbitkan dan beredar serta dampak dilusinya (dillution effect)
        e) Ikatan-ikatan yang terkait dengan penerbitan waran.
      41) Kompensasi Berbasis Saham 
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Penjelasan mengenai program kompensasi, termasuk persyaratan umum program kompensasi seperti :





(1) Persyaratan pemberian hak kompensasi 
          (2) Periode maksimum opsi
          (3) Jumlah saham yang ditetapkan untuk opsi atau instrumen ekuitas lainnya
        b) Jumlah dan rata-rata tertimbang harga eksekusi opsi dan instrumen ekuitas selain opsi seperti saham tanpa hak.
        c) Rata-rata tertimbang nilai wajar opsi dan instrumen ekuitas selain opsi pada tanggal pemberian kompensasi yang diberikan dalam suatu periode
        d) Penjelasan mengenai metode  dan asumsi signifikan yang digunakan dalam suatu periode untuk mengestimasi nilai wajar opsi
        e) Perubahan persyaratan signifikan  dari program kompensasi yang sedang berjalan
        f) Rentang harga eksekusi, rata-rata tertimbang harga eksekusi, dan rata-rata tertimbang sisa periode opsi;
        g) Jumlah beban kompensasi yang diakui untuk program kompensasi berbasis saham untuk periode berjalan
        h) Efek dilusi (dillution effect)
      42) Pendapatan Usaha
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Penjualan bersih kepada  pihak yang mempunyai hubungan istimewa dan pihak ketiga;
        b) Dipisahkan antara penjualan biasa dan penjualan konsinyasi,
        c) Rincian jumlah dari kelompok produk/jasa utama,
        d) Nama pihak  pembeli dan nilai penjualan yang melebihi 10% terhadap pendapatan.
        e) Pendapatan yang ditunda (ditangguhkan) pengakuannya.
      43) Beban Pokok Penjualan
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) nama pihak penjual yang melebihi 10% dari pendapatan;
        b) Beban pokok penjualan atas penjualan barang konsinyasi.
      44) Beban Usaha
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        Rincian beban dengan menggunakan klasifikasi yang didasarkan pada fungsi beban:
        a) Beban Penjualan
        b) Beban Umum dan Administrasi yang setidak-tidaknya merinci :
          (1) Beban gaji dan tunjangan;
          (2) Beban penyusutan dan amortisasi.
      45) Pendapatan (Beban) Lainnya
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Jenis dan jumlahnya
        b) Rincian beban keuangan sebagai berikut :
          (1) Bunga;
          (2) Selisih kurs bersih atas penanaman dan pinjaman dalam valuta asing (sepanjang selisih kurs bersih tersebut merupakan penyesuaian terhadap biaya bunga)
          (3) Keuntungan (kerugian) dari transaksi derivatif yang bertujuan untuk lindung nilai
          (4) Amortisasi biaya perolehan pinjaman, seperti biaya konsultan, ahli hukum, biaya provisi, commitment fees dan sebagainya
          (5) Dikurangi beban keuangan yang dikapitalisasi,
          (6) Jumlah beban keuangan yang dibebankan pada periode berjalan,
          (7) Ditambah (dikurangi) kerugian (keuntungan) transaksi derivatif yang tidak bertujuan untuk lindung nilai (hedging)
          (8) Jumlah beban keuangan dan rugi transaksi derivatif yang dibebankan pada periode yang sedang berjalan
          (9) Jika terjadi devaluasi atau apresiasi, maka disajikan rincian perhitungan keuntungan atau kerugian selisih kurs, demikian juga kebijakan pembebanan yang dilakukan
          (10) Pos-pos lain yang sifat, jumlah atau kejadiannya akan menjelaskan transaksi signifikan yang dilakukan perusahaan, misalnya: keuntungan/kerugian  dari penjualan aktiva tetap, keuntungan klaim asuransi dan sebagainya
        c) Untuk laba/rugi penjualan surat berharga, Yang harus diungkapkan antara lain :
          Rincian untuk setiap jenis klasifikasi investasi efek hutang dan ekuitas :
          (1) Kelompok efek yang tersedia untuk dijual :
            (a) Penerimaan dari penjualan efek
            (b) Laba atau rugi yang direalisasikan
            (c) Rugi akibat penurunan permanen nilai efek
          (2) Kelompok efek yang dimiliki untuk tujuan diperdagangkan :  laba atau rugi pemilikan efek yang telah maupun belum direalisasikan
          (3) Kelompok efek yang dimiliki hingga jatuh tempo :
            (a) Laba atau rugi penjualan efek
            (b) rugi akibat penurunan permanen nilai efek
      46) Pajak Penghasilan 
        Hal-hal Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Unsur-unsur beban (penghasilan) pajak yang terdiri dari pajak kini dan pajak tangguhan,
        b) Rekonsiliasi antara beban (penghasilan) pajak dengan hasil perkalian laba akuntansi dengan tarif yang berlaku dengan mengungkapkan dasar penghitungan tarif pajak yang berlaku,
        c) Rekonsiliasi fiskal dan perhitungan beban pajak kini, dengan cara sebagai berikut :





(1) Laba (rugi) sebelum pajak menurut akuntansi
          (2) Ditambah/dikurangi  beda tetap (dirinci)
          (3) Laba kena pajak menurut akuntansi
          (4) Ditambah/dikurangi beda temporer (dirinci)
          (5) Laba Kena Pajak (sesuai SPT)
          (6) Perhitungan beban/hutang pajak  kini dengan menerapkan tarif pajak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan pajak yang berlaku
        d) Pernyataan bahwa Laba Kena Pajak (LKP) hasil rekonsiliasi telah sesuai dengan SPT
        e) Untuk setiap kelompok perbedaan temporer dan setiap kelompok rugi yang dapat dikompensasi ke tahun berikut
       
(1) Rincian aktiva dan kewajiban pajak tangguhan yang disajikan pada neraca untuk setiap periode penyajian;
          (2) Jumlah beban (penghasilan) pajak tangguhan yang diakui pada laporan laba rugi apabila jumlah tersebut tidak terlihat dari jumlah aktiva atau kewajiban pajak tangguhan yang diakui pada neraca.
        f) Jumlah (dan batas waktu penggunaan, jika ada) perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan sisa rugi yang dapat dikompensasi ke periode berikut, serta jumlah yang tidak diakui sebagai aktiva pajak tangguhan
        g) Jumlah aktiva pajak tangguhan dan sifat bukti yang mendukung pengakuannya, jika :
          (1) Penggunaan aktiva pajak tangguhan tergantung pada apakah laba fiscal yang dapat dihasilkan pada periode mendatang melebihi laba dari realisasi  perbedaan temporer kena pajak yang telah ada; dan
          (2) Perusahaan telah menderita kerugian pada periode berjalan atau periode sebelumnya
        h) Pernyataan manajemen bahwa aktiva pajak tangguhan dapat dipulihkan
        i) Beban pajak yang berasal dari :
          (1) Keuntungan (kerugian) atas penghentian operasi dan
          (2) Laba (rugi) dari aktivitas normal operasi yang tidak dilanjutkan untuk periode pelaporan, bersama dengan jumlah periode akuntansi sebelumnya  yang disajikan  pada laporan keuangan. Rincian rugi fiskal per tahun yang dapat dikompensasi ke periode berikutnya, sesuai SPT atau SKP terakhir
        j) Beban (penghasilan) pajak yang berasal dari pos-pos luar biasa yang diakui pada periode berjalan
        k) Penjelasan mengenai tarif pajak yang berlaku dan perbandingan dengan tarif pajak yang berlaku pada periode sebelumnya (apabila terjadi perubahan tarif pajak sesuai peraturan yang berlaku)
        l) Jumlah pajak kini dan pajak tangguhan yang langsung dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas.
      47) Pos Luar Biasa
        Yang harus diungkapkan antara lain jenis dan jumlah dari setiap unsur pos luar biasa, nilai pajak penghasilan yang terkait, dan nilai bersihnya.
      48) Laba/Rugi Per Saham
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Jumlah laba (rugi) yang digunakan sebagai pembilang dalam penghitungan laba (rugi) per saham dasar dan dilusian dan rekonsiliasi angka-angka tersebut ke laba bersih
        b) Jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang digunakan sebagai penyebut dalam penghitungan laba (rugi) per saham dasar, dilusian, dan perhitungan per Sertifikat Penitipan Efek (SPE), serta rekonsiliasi antara jumlah penyebut dalam penghitungan laba/rugi per saham dasar dan dilusian.
 

49) Transaksi Hubungan Istimewa
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Rincian jumlah dan proporsi (persentase) saldo aktiva, kewajiban, penjualan atau pendapatan dan beban,
        b) Apabila jumlah dari setiap jenis transaksi atau saldo untuk masing-masing kategori tersebut dengan pihak tertentu melebihi Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah), maka jumlah tersebut harus disajikan secara terpisah dan nama serta hubungan pihak tersebut wajib diungkapkan,
        c) Sifat hubungan, jenis, dan unsur transaksi hubungan istimewa,
        d) Penjelasan transaksi yang tidak berhubungan dengan kegiatan usaha utama (nonoperasi) dan jumlah hutang/piutang sehubungan dengan transaksi tersebut,
        e) Kebijakan harga dan syarat transaksi, serta pernyataan apakah penerapan kebijakan harga dan  syarat tersebut sama dengan kebijakan harga dan syarat untuk transaksi dengan pihak ketiga
      50) Aktiva dan Kewajiban dalam Valuta Asing 
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) rincian aktiva dalam valuta asing dan ekuivalen dalam rupiah
        b) rincian kewajiban dalam valuta asing dan ekuivalen dalam rupiah
        c) Posisi neto dari butir a) dan b)
        d) Rincian kontrak  valuta asing  berjangka dan ekivalen dalam rupiah
        e) Kebijakan manajemen risiko mata uang asing
        f) Alasan untuk tidak melakukan lindung nilai
        Pengungkapan ini hanya untuk tahun berjalan
      51) Kerjasama Operasi 
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Hal-hal pokok dalam perjanjian KSO terutama yang berkaitan dengan hak dan kewajiban dari masing-masing partisipan KSO
        b) Pihak-pihak yang terkait dalam perjanjian KSO
        c) Lokasi aktiva KSO dan jangka waktu pengelolaan
        d) Perhitungan atau penentuan hak  bagi pendapatan/hasil kerjasama operasi,
        e) Perhitungan (tambahan) beban atau penghasilan kerjasama operasi yang timbul dari pembayaran bagi pendapatan/hasil,
        f) Ketentuan tentang perubahan perjanjian KSO
        g) Isi perubahan perjanjian KSO, bila ada
      52) Perikatan dan Kontinjensi
        a) Perikatan
          Yang harus diungkapkan antara lain :
          (1) Jenis dan  sifat perikatan yang meliputi, namun tidak terbatas pada :
            (a) Perjanjian sewa, keagenan  bantuan manajemen, teknis, dan lisensi :
              i.  Pihak-pihak yang terkait dalam perjanjian,
              ii. Periode berlakunya perikatan
              iii.  Dasar penentuan kompensasi dan denda.
              iv. Jumlah beban atau pendapatan pada periode pelaporan,
              v. Pembatasan-pembatasan lainnya
            (b) Kontrak/perjanjian yang memerlukan penggunaan dana di masa yang akan datang, seperti pembangunan toko, perjanjian pembelian, ikatan untuk investasi, dsb :
              i. Pihak-pihak yang terkait dalam perjanjian,
              ii. Periode berlakunya perikatan,
              iii. Nilai keseluruhan, mata uang, dan bagian yang telah direalisasi,
              iv. Sanksi-sanksi
            (c) Pendapat manajemen mengenai kelangsungan perikatan
          (2) Pemberian jaminan/garansi,
            (a) Pihak-pihak yang dijamin dan yang menerima jaminan, yang dipisahkan antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa dan pihak ketiga untuk pihak yang dijamin,
            (b) Latar belakang dikeluarkannya jaminan,
            (c) Periode berlakunya jaminan,
            (d) Nilai jaminan.
          (3) Fasilitas kredit yang belum digunakan, contoh fasilitas L/C, Bank Overdraft.
          (4) Lain-lainnya.
        b) Kontinjensi
          Yang harus diungkapkan untuk kerugian kontinjensi yang tidak diakui melalui suatu pembebanan dan keuntungan kontinjensi adalah :
          (1) Jenis dan sifat kontinjensi
          (2) Estimasi mengenai dampak keuangan atau pernyataan bahwa estimasi semacam itu tidak dapat dibuat.
          (3) Faktor ketidakpastian yang dapat mempengaruhi hasil akhir di masa depan, misal: tuntutan atau gugatan hukum yang masih berada dalam proses
          (4) Perkara/sengketa hukum
            (a) Pihak-pihak yang terkait,
            (b) Jumlah diperkarakan, (minta pihak yang berkompeten),
            (c) Latar belakang, isi dan status perkara dan penetapan hukum (legal opinion).
          (5) Peraturan pemerintah yang mengikat perusahan seperti: masalah lingkungan hidup.  Diungkapkan uraian singkat tentang peraturan dan dampaknya terhadap perusahaan.
          (6) Kemungkinan kewajiban pajak tambahan
            (a) Jenis ketetapan/tagihan pajak, jenis pajak, tahun pajak serta jumlah pokok dan denda bunganya,
            (b) Sikap perusahaan terhadap ketetapan/tagihan pajak (keberatan, banding dsb.)
      53) Restrukturisasi Hutang Bermasalah 
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Penjelasan tentang pokok-pokok  perubahan persyaratan dan penyelesaian hutang
        b) Jumlah keuntungan atas restrukturisasi hutang dan dampak pajak penghasilan yang terkait
        c) Jumlah keuntungan atau kerugian bersih atas pengalihan aset yang diakui selama periode tersebut.
        d) Jumlah hutang kontinjen yang dimasukkan dalam nilai tercatat hutang yang telah direstrukturisasi.



54) Informasi Segmen Usaha
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Gambaran aktivitas masing-masing segmen industri dan wilayah geografis yang dilaporkan. Untuk menentukan apakah suatu segmen harus dilaporkan tersendiri, digunakan kriteria materialitas 10% dari pendapatan, laba usaha  atau aktiva. Selain itu juga digunakan kriteria 75%  dari pendapatan segmen untuk pengujian apakah diperlukan penambahan pengungkapan bagi segmen yang sebelumnya tidak memenuhi kriteria materialitas 10% di atas.
        b) Untuk setiap segmen industri atau geografis yang dilaporkan, yang meliputi:
          (1) Pendapatan segmen
          (2) Hasil segmen
          (3) Jumlah keseluruhan nilai tercatat aktiva segmen
          (4) Jumlah keseluruhan kewajiban segmen
          (5) Jumlah biaya keseluruhan untuk memperoleh aktiva segmen yang dapat digunakan selama lebih dari 1 (satu) periode
          (6) Jumlah keseluruhan beban depresiasi dan amortisasi aktiva segmen
          (7) Karakteristik dan jumlah unsur pendapatan serta ukuran, karakteristik, dan kejadian beban segmen yang relevan
          (8) Jumlah keseluruhan beban non kas yang signifikan
          (9) Arus kas segmen
          (10) Jumlah bagian laba (rugi) bersih pada perusahaan asosiasi atau investasi lain yang dilaporkan berdasarkan metode ekuitas
          (11) Jumlah agregat investasi pada perusahaan asosisasi dan patungan
        c) Untuk setiap segmen yang dilaporkan dalam bentuk sekunder, yang meliputi:
          (1) Bila bentuk primer adalah segmen usaha, maka yang diungkapkan adalah :
            (a) Pendapatan segmen dari pelanggan eksternal menurut wilayah geografis pelanggan
            (b) Jumlah nilai tercatat aktiva segmen menurut lokasi geografis aktiva
            (c) Jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva berwujud dan tidak berwujud yang masa penggunaannya lebih dari 1 (satu) periode menurut lokasi geografis aktiva
          (2) Bila bentuk primer adalah segmen geografis yang diungkapkan adalah :
            (a) Pendapatan segmen dari pelanggan eksternal
            (b) Jumlah nilai tercatat aktiva segmen usaha
            (c) Jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva berwujud dan tidak berwujud yang masa penggunaannya lebih dari 1 (satu) periode.
          (3) Bila bentuk primer adalah  segmen geografis berdasarkan lokasi aktiva yang berbeda dengan lokasi pelanggan, Yang harus diungkapkan antara lain  pendapatan penjualan kepada pelanggan eksternal untuk setiap segmen geografis berdasarkan lokasi pelanggan.
          (4) Bila bentuk primer adalah  segmen geografis berdasarkan lokasi pelanggan yang berbeda  dengan lokasi aktiva, Yang harus diungkapkan antara lain :
            (a) Jumlah nilai tercatat aktiva segmen
            (b) Jumlah biaya yang dikeluarkan selama1 (satu) periode untuk memperoleh aktiva segmen berupa aktiva berwujud dan tidak berwujud dengan masa penggunaan lebih dari 1 (satu) periode.
            Untuk setiap segmen geografis berdasarkan lokasi aktiva
        d) Perubahan dalam penentuan segmen dan perubahan dalam kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pelaporan informasi segmen, yaitu:
          (1) Penjelasan karakteristik perubahan
          (2) Alasan perubahan
          (3) Fakta bahwa informasi komparatif telah disajikan kembali atau tidak praktis dilakukan
          (4) Dampak keuangan perubahan tersebut
        e) Apabila terjadi penghentian atau  penjualan suatu segmen usaha, harus diungkapkan:
          (1) Penjelasan mengenai operasi dalam penghentian
          (2) Segmen usaha atau geografis yang di dalamnya operasi dalam penghentian dilaporkan
          (3) Tanggal dan karakteristik peristiwa pengungkapan awal
          (4) Tanggal dan periode saat penghentian tersebut diperkirakan akan selesai, apabila tanggal atau periode tersebut diketahui atau dapat ditentukan
          (5) Nilai tercatat dari jumlah aktiva dan kewajiban yang akan dilepas
          (6) Jumlah pendapatan, beban, dan laba (rugi) sebelum pajak dari aktivitas normal dan beban pajak penghasilan yang dapat dikaitkan dengan operasi dalam penghentian
          (7) Jumlah arus kas neto yang dapat dikaitkan dengan aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dari operasi dalam penghentian
          (8) Bila suatu perusahaan :
            (a) menjual suatu aktiva atau menyelesaikan kewajiban maka harus diungkapkan pula informasi berikut  :
              i. Jumlah keuntungan atau kerugian sebelum pajak, dan
              ii. Beban pajak penghasilan atas keuntungan atau kerugian tersebut, atau
            (b) Melakukan perjanjian yang mengikat untuk menjual atau menyelesaikan kewajiban, maka harus diungkapkan pula harga jual neto atau rentang harga jual neto yang telah dimasukkan ke dalam satu atau lebih perjanjian penjualan yang mengikat, perkiraan saat penerimaan arus kas, dan nilai tercatat aktiva neto tersebut



55) Rekonsiliasi antara Prinsip Akuntansi yang Berlaku di Indonesia dengan di Negara Lain
        Ketentuan ini khusus bagi perusahaan yang menyajikan rekonsiliasi antara prinsip akuntansi yang berlaku di Indonesia dengan di Amerika Serikat untuk memenuhi kepentingan pihak tertentu.
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Ringkasan perbedaan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dengan di Amerika Serikat. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh antara lain, namun tidak terbatas pada :
          (1) Penilaian kembali aktiva tetap
          (2) Biaya emisi saham ditangguhkan
          (3) Rugi kurs untuk aktiva dalam pembangunan
        b) Rekonsiliasi laba bersih dan ekuitas berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan di Amerika Serikat.
        c) Kelompok utama neraca dan laporan laba rugi menurut prinsip yang berlaku umum di Amerika Serikat (US GAAP)
        d) Pengungkapan tambahan yang dipersyaratkan US GAAP dan US SEC, antara lain :
          (1) Rekonsiliasi antara taksiran pajak penghasilan yang dilaporkan dan taksiran pajak penghasilan menurut US GAAP
          (2) Nilai wajar instrumen keuangan
          (3) Akun-akun penilaian dan yang memenuhi syarat (valuation and qualifying accounts), misalnya penyisihan piutang ragu ragu, penyisihan penurunan nilai efek, yang meliputi:
            (a) Saldo awal tahun
            (b) Penambahan
            (c) Pengurangan
            (d) Saldo akhir tahun
            (e) Pernyataan mengenai risiko  dan ketidakpastian dalam penyusunan laporan keuangan
            (f) Nilai wajar instrumen keuangan derivatif
            (g) Laba komprehensif (perubahan ekuitas yang berasal dari transaksi dengan selain pemilik)
          Apabila emiten juga tercatat di bursa negara lain dan harus melakukan pengungkapan tambahan mengikuti ketentuan pengungkapan untuk laporan keuangan perusahaan asing yang berlaku di bursa tersebut, maka pengungkapan tersebut harus disajikan dalam laporan keuangan.
      56) Instrumen Derivatif
        Bagi entitas yang memiliki atau menerbitkan instrumen derivative yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Pengelompokan instrumen derivatif sesuai dengan tujuannya yaitu untuk lindung nilai atau tujuan lainnya (non lindung nilai) seperti spekulasi.
        b) Untuk tiap kontrak instrumen derivatif dalam kelompok klasifikasi lindung nilai dan kelompok non lindung nilai di atas diungkapkan :
          (1) Hakikat dan sifat dari transaksi, berupa transaksi berjangka dalam bentuk valuta, bunga, komoditas atau lain-lain.
          (2) Pihak lawan transaksi (counterparties).
          (3) Tanggal jatuh tempo.
          (4) Nilai keseluruhan kontrak dan nilai wajar pada tanggal neraca.
          (5) Beban atau pendapatan pada periode pelaporan.
          (6) Pos aktiva dan atau pasiva yang dilindung nilai.
          (7) Persyaratan penting lainnya.
        c) Hal-hal yang diperlukan untuk memahami tujuan perusahaan melakukan transaksi derivatif dan strategi perusahaan untuk mencapai tujuan tersebut.
        d) Kebijakan manajemen risiko untuk setiap klasifikasi lindung nilai, termasuk penjelasan mengenai aktiva/kewajiban dan jenis transaksi yang dilindungi.
        e) Bagi instrumen yang tidak dimaksudkan sebagai suatu lindung nilai, disebutkan tujuan dari aktivitas derivatif.
      57) Perubahan Akuntansi dan Kesalahan Mendasar
        Apabila perusahaan melakukan penyajian kembali laporan keuangan akibat hal-hal berikut, yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Perubahan Estimasi Akuntansi
          Yang harus diungkapkan antara lain :
          (1) Hakikat dan alasan perubahan estimasi akuntansi.
          (2) Jumlah perubahan estimasi yang mempengaruhi periode berjalan.
          (3) Pengaruh estimasi terhadap periode mendatang. Jika penghitungan pengaruh terhadap periode mendatang tidak praktis kenyataan tersebut harus diungkapkan.
        b) Perubahan Kebijakan Akuntansi
          Yang harus diungkapkan antara lain :
          (1) Hakikat, alasan dan tujuan perubahan kebijakan akuntansi.
          (2) Jumlah penyesuaian perubahan  kebijakan akuntansi terhadap periode berjalan dan periode sebelumnya yang disajikan kembali;
          (3) Jumlah penyesuaian yang berhubungan dengan masa sebelum periode yang tercakup dalam informasi komparatif, dan
          (4) Kenyataan bahwa informasi komparatif telah dinyatakan kembali atau kenyataan bahwa informasi komparatif tidak praktis untuk dinyatakan kembali.
        c) Koreksi Kesalahan Mendasar
          Yang harus diungkapkan antara lain :
          (1) Hakikat kesalahan mendasar
          (2) Jumlah koreksi untuk setiap periode.
          (3) Jumlah koreksi yang berhubungan dengan  periode-periode sebelum periode yang tercakup dalam informasi komparatif; dan
          (4) Kenyataan bahwa informasi komparatif telah dinyatakan kembali atau kenyataan informasi komparatif tidak praktis untuk dinyatakan kembali. Kondisi tidak praktis dimaksud antara lain melakukan jurnal ulang transaksi demi transaksi satu persatu dari awal tahun hingga akhir tahun;
      58) Perkembangan Terakhir Standar Akuntansi Keuangan dan Peraturan Lainnya
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Penjelasan mengenai standar akuntansi keuangan dan peraturan baru yang akan diterapkan dan mempengaruhi aktivitas perusahaan.
        b) Estimasi dampak penerapan standar akuntansi keuangan dan peraturan baru tersebut.
      59) Peristiwa setelah Tanggal Neraca
        Yang harus diungkapkan antara lain :
        a) Uraian peristiwa misalnya tanggal terjadinya, sifat peristiwa, jumlah moneter yang mempengaruhi akun-akun laporan keuangan.
          Peristiwa-peristiwa berikut antara lain mencakup :
          (1) Penjualan obligasi atau penerbitan saham baru
          (2) Perubahan modal saham atau komposisi pemegang saham utama
          (3) Pelunasan/perolehan baru/restrukturisasi hutang jangka panjang
          (4) Pembelian bisnis
          (5) Penjualan investasi jangka panjang pada perusahaan asosiasi
          (6) Pembelian atau pelepasan segmen usaha atau lini produk
          (7) Tuntutan hukum yang menimbulkan kewajiban yang disebabkan oleh peristiwa yang terjadi setelah tanggal neraca
          (8) Bencana yang mengakibatkan kerugian bagi perusahaan seperti kerugian karena kebakaran, kebanjiran, dsb
          (9) Kerugian yang diakibatkan oleh kondisi (seperti kebangkrutan pelanggan).
          (10) Hasil pemeriksaan/ketetapan pajak-pajak perusahaan oleh fiskus
          (11) Pengungkapan deklarasi dividen  setelah tanggal neraca, sebelum tanggal penerbitan laporan keuangan.
          (12) Lain-lainnya.
        b) Estimasi mengenai dampak keuangan atau pernyataan bahwa estimasi semacam itu tidak dapat dibuat.
        c) Dalam hal terjadi peristiwa yang mempengaruhi penyajian laporan keuangan secara keseluruhan, misalnya merjer dan akuisisi, pelepasan segmen usaha atau divestasi anak perusahaan maka harus disajikan informasi keuangan proforma seakan-akan transaksi terseut terjadi pada tanggal neraca terakhir atau pada awal periode laporan keuangan terakhir yang disajikan
      60) Informasi Penting Lainnya
        Yang harus diungkapkan antara lain sifat, jenis, jumlah dan dampak dari peristiwa atau keadaan yang mempengaruhi kinerja atau kelangsungan hidup perusahaan
      61) Reklasifikasi 
        Yang harus diungkapkan antara lain sifat, jumlah dan alasan reklasifikasi untuk setiap pos  dalam tahun buku sebelum tahun buku terakhir yang disajikan dalam rangka laporan keuangan komparatif.

 

Loading

Arsip Peraturan

Hubungi Kami

Solomon Consulting Group
     
Telepon : 081-1360-890
     
E-mail : info@proscg.com
     


 

Hubungi Kami

 

Event

Karir

Quotes

“Trust in the LORD with all your heart, and lean not to your own understanding. In all your ways acknowledge Him, and He shall direct your paths. [Proverbs 3 : 5,6]”

 

 

Copyright © 2012 by Solomon Consulting Group
Powered by tobsite.com