Harian Kompas, 26 July 2016
Kredit Perbankan Per Semester I-2016 Masih Tumbuh
JAKARTA, KOMPAS — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menargetkan bisa menarik dana repatriasi Rp 50 triliun dari kebijakan pengampunan pajak. Instrumen untuk menampung dana repatriasi itu antara lain efek beragun aset, dana investasi real estat, obligasi, dan deposito.
"Pengampunan pajak adalah peluang dan momentum yang sangat baik. Perlu strategi menjemput bola agar dana-dana itu bisa masuk lebih baik lagi," ujar Direktur Utama BTN Maryono dalam paparan kinerja semester I-2016 di Jakarta, Senin (25/7).
Instrumen yang siap digulirkan antara lain efek beragun aset (EBA) Rp 5 triliun, deposito, serta penerbitan obligasi Rp 3 triliun yang secara bertahap ditingkatkan hingga Rp 10 triliun.
Maryono menambahkan, penerbitan produk baru berupa Dana Investasi Real Estat (DIRE) bekerja sama dengan PT Danareksa Investment Management. BTN kini menawarkan produk baru DIRE kepada debitor yang ingin menjual aset properti, terutama gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di Jakarta.
Menurut Maryono, dana repatriasi yang masuk dari kebijakan pengampunan pajak akan dimanfaatkan sebagai kredit bagi pengembang yang akan membeli tanah untuk proyek rumah bersubsidi. Kelonggaran dari BTN ini diharapkan menjadi modal yang baik bagi pengembang dalam program pembangunan perumahan.
Direktur BTN Iman Noegroho Soeko menambahkan, kebijakan pengampunan pajak merupakan kesempatan meningkatkan deposito. Diharapkan dana repatriasi yang masuk ke BTN mencapai Rp 50 triliun dari target pemasukan dana repatriasi total Rp 560 triliun.
Kinerja
Pada semester I-2016, BTN membukukan laba bersih sebesar Rp 1,042 triliun. Kredit yang disalurkan BTN Rp 149,316 triliun, tumbuh 18,39 persen dalam setahun. Kredit didominasi sektor perumahan Rp 135,745 triliun, sedangkan nonperumahan Rp 13,571 triliun.
"BTN memimpin pembiayaan perumahan, dengan pangsa pasar 31 persen," ujar Maryono.
Dana pihak ketiga BTN per akhir Juni 2016 sebesar Rp 134,555 triliun. Sementara rasio kredit bermasalah 3,4 persen.
PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Tbk membukukan laba bersih Rp 1,3 triliun per akhir Juni 2016. Menurut Direktur Utama BTPN Jerry Ng, dalam siaran pers kemarin, laba BTPN awal 2016 dan tiga bulan pertama 2016 tergerus akibat alokasi dana investasi yang cukup besar. "Kami optimistis, ke depan BTPN akan lebih baik lagi," katanya.
Pada Januari-Juni 2016, BTPN mengalokasikan Rp 195 miliar untuk investasi pengembangan infrastruktur BTPN dan layanan digital.
BTPN menyalurkan kredit sebesar Rp 61,6 triliun per akhir semester I-2016, tumbuh 11 persen dalam setahun.
Melalui siaran pers, Bank Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat dan Banten (BJB) menyampaikan, laba bersih hingga Juni 2016 sebesar Rp 1,152 triliun.
Menurut Direktur Utama BJB Ahmad Irfan, kinerja BJB menunjukkan tren positif. "Permodalan BJB juga sehat dan kuat," kata Irfan di Nusa Dua, Bali.
Pada akhir Juni 2016, BJB sudah merevaluasi aset, dengan nilai Rp 1,5 triliun.