Harian Kontan, 1 December 2016
Rata-rata transaksi harian tembus Rp 7 triliun didorong crossing saham
JAKARTA. Transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang November makin ramai. Nilai dan volume transaksi harian rata-rata bulan kesebelas ini melonjak. Alhasil, nilai transaksi harian rata-rata di BEI berhasil melampaui target Rp 7 triliun.
Hingga 30 November, nilai transaksi harian rata-rata BEI mencapai Rp 7,47 triliun. Nilai transaksi bulan November terdongkrak berkat crossing saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencapai Rp 177 triliun. Ada dugaan, transaksi ini terkait repatriasi dana amnesti pajak.
Di luar transaksi jumbo itu, aktivitas pasar saham masih terhitung ramai. Frekuensi transaksi juga makin tinggi, meski dana asing terus mengalir ke luar. Sepanjang November, frekuensi transaksi harian rata-rata BEI mencapai 329.713 kali, meningkat dari bulan Oktober sekitar 281.000 kali dan jauh melebihi frekuensi harian Januari yang baru sekitar 209.000 kali.
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menambahkan, saat kondisi pasar naik utilitas pasar juga jadi lebih tinggi. Sehingga transaksi ramai dan mendongkrak rata-rata transaksi harian.
Beberapa saham dengan nilai transaksi tertinggi masih berasal dari saham-saham lapis atas, seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan BBCA.
Chief Investment Officer Syailendra Capital Cholis Baidowi mengatakan, sektor yang masih dianggap aman adalah consumer goods. Makanya INDF dan UNVR masih menggerakkan bursa. Sektor konstruksi, perbankan dan perkebunan khususnya kelapa sawit pun masih menarik.
"Dari perbankan, ada perbaikan di segi NPL serta kredit dan pertumbuhan," kata Cholis, Selasa (29/11). Cholis membeberkan saham pilihanya yang layak dikoleksi adalah BBCA, BMRI, TLKM, LSIP, AALI, ITMG, ADRO, RALS, SCMA, INDF, WSKT, WIKA, WSBP dan PTPP.
Analis Senior Bina Artha Parama Reza Priyambada mengatakan, saham komoditas yang sempat melambat di awal tahun kini jadi lebih menarik. Khususnya saham-saham emiten batubara dan emiten perkebunan kelapa sawit. "Saham-saham komoditas masih menunjukkan sentimen positif menjelang akhir tahun," kata Reza.
Reza merekomendasikan SMBR, INTP, ITMG, ADRO, PTBA, MEDC dan DOID untuk dikoleksi. Reza menambahkan, saham-saham perbankan big caps dan consumer goods juga masih aman dikoleksi jangka panjang.
Analis Asjaya Indosurya William Suryawijaya menyarankan pelaku pasar melakukan trading pada saham-saham dengan fundamental baik, mengingat prospek kenaikan suku bunga Amerika Serikat. "Jadi masih lebih baik bermain di saham emiten big caps yang harganya sedang terkoreksi," kata William. Dia mencontohkan seperti saham ADHI, TLKM, EXCL, JSMR.
Untuk strategi trading jangka pendek sekali, William merekomendasikan saham-saham tambang batubara seperti DOID, ADRO, ITMG.