Harian Kontan, 29 June 2016
JAKARTA. Lelang surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk negara pada Selasa (28/6) diwarnai permintaan yield tinggi. Investor cenderung berhati-hati menanti UU tax amnesty, yang akhirnya disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kemarin.
Kendati permintaan yield tinggi, pemerintah menyerap sukuk negara melebihi target indikatif yang ditetapkan se-belumnya sebesar Rp 4 triliun. Seri PBS009 misalnya, meraih total penawaran Rp 2,44 triliun dengan yield terendah yang masuk 7,31%. Yield tersebut lebih tinggi dibandingkan lelang Selasa (14/6), yang mencatat yield terendah 7,18%.
Demikian juga dengan seri PBS006 yang menerima total penawaran Rp 1,9 triliun, dengan yield terendah yang masuk 7,68%. Pada lelang sebelumnya, seri ini mencatat yield terendah yang masuk sebesar 7,65%.
Seri PBS011 yang pada lelang kali ini mencatat total penawaran Rp 135 miliar, dengan yield terendah yang masuk 7,84% lebih tinggi dibandingkan lelang sebelumnya yang sebesar 7,87%.
Lalu, seri PBS012 mencatat penawaran Rp 2,13 triliun dengan yield tertinggi 10% dan terendah 8,18%. Yield seri ini juga tercatat lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, yang mencatat yield tertinggi 8,4% dan yield terendah 8,15%.
Sementara itu, seri anyar SPNS29122016 (new issuance) mencatat penawaran sekitar Rp 1,9 triliun dengan yield tertinggi yang masuk 7% dan terendah 6%.
Dari total penawaran yang masuk sebesar Rp 7,8 triliun, lelang ini cuma diserap Rp 5 triliun. Pemerintah hanya memenangkan seri PBS009, PBS006 dan PBS012 masing-masing sebesar Rp 1 triliun, Rp 1,9 triliun dan Rp 2 triliun.
Investment Specialist BNI Asset Management Akuntino Madhany mengatakan, tingginya penawaran yield dipicu kenaikan yield di pasar sekunder. Pasar obligasi tertekan akibat isu realisasi tax amnesty serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). "Setelah Brexit (Britain Exit) menyebabkan kurs rupiah tertekan, yield obligasi mengalami kenaikan," ujar Akuntino, Selasa (28/6).
Di sisi lain, Akuntino memperkirakan, kebutuhan investasi di surat berharga negara (SBN) masih tinggi, sehingga total penawaran meningkat dibandingkan lelang sebelumnya, yang mencapai Rp 6,9 triliun. "Ditambah yield juga masih cukup baik," ujar Akuntino.
Ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih mengatakan, pemerintah tak agresif menyerap lelang lantaran menanti pengesahan tax amnesty. "Pemerintah berharap dari tax amnesty bisa mengurangi utang, sehingga utangnya agak tertahan," ujar Lana.