Berita Pajak
![]()
Kantor Pajak Berpotensi Gagal Mencapai Target Lagi Tahun Ini
Harian Kontan, 13 January 2014
Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Rofiyanto Kurniawan, menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya dikisaran 5,5%-5,8%. Pertumbuhan ini jauh di bawah target di asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014 yakni sebesar 6%. Target pertumbuhan ekonomi ini bisa lebih rendah lagi, mengingat nilai tukar rupiah masih melemah.
Menurut Rofiyanto, pertumbuhan ekonomi yang rendah, mau tidak mau berdampak negatif bagi setoran pajak. Rendahnya pertumbuhan ekonomi berarti kegiatan ekspansi dunia usaha juga terhambat, sehingga kontribusi terhadap pajak ikut tertekan.
Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmany pun mengakui target kantor pajak tahun ini akan sulit tercapai. Perekonomian global maupun Indonesia tahun ini belum tentu lebih baik dari tahun 2013.
Sektor konsumsi
Fuad menjelaskan, penerimaan pajak saat ini bergantung pada ekonomi dunia. Target pajak tahun ini sebesar Rp 1.110,18 triliun, naik 24,28% dibandingkan dengan penerimaan 2013. Pemerintah menetapkan target yang tinggi dengan asumsi ada perbaikan ekonomi global, terutama di negara tujuan ekspor terbesar seperti Amerika Serikat, Jepang, dan China.
Kondisi itu sebenarnya juga diberlakukan saat pemerintah menetapkan target penerimaan pajak 2013. Namun, target tahun lalu gagal tercapai. Pasalnya, ekonomi global mempengaruhi kinerja sejumlah sektor usaha yang menjadi penyumbang pajak terbesar.
Ambil contoh, sektor pertambangan dan penggalian. Pada 2013 kemarin hanya membukukan setoran Rp 53,9 triliun atau turun 14,36% dibanding tahun 2012 yang sebesar Rp 63,05 triliun.
Meski demikian, Fuad masih optimistis ada potensi mengejar penerimaan pajak 2014. Sebab ada sektor usaha yang tidak terganggu gejolak perekonomian dunia, yaitu sektor jasa perdagangan. Namun, "Kemampuan kami menarik setoran di sektor ini tidak ada," ujar Fuad di Jakarta akhir pekan lalu. Sekadar catatan, penerimaan dari sektor perdagangan besar dan eceran per 31 Desember 2013 sebesar Rp 124,39 triliun.
Pajak mengaku tak mampu maksimal menarik sektor usaha ini lantaran pegawai pajak yang minim. Padahal Sektor jasa perdagangan jumlahnya mencapai jutaan. Sementara total pegawai pajak saat ini hanya 31.000 orang. "Administrasi pajak sulit menagih mereka," keluh Fuad.
Di mata Kepala Ekonom Mandiri Destry Damayanti, sejatinya, ada cara menggenjot penerimaan pajak. Yakni, mendorong penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN), sebab pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah konsumsi masyarakat.
Sedangkan peneliti perpajakan Danny Darussalam Tax Center Bawono Kristiaji mengusulkan agar pajak fokus pada sektor yang belum tergali. Misalnya kepatuhan pajak dari orang pribadi.
Meski demikian Bawono setuju jika kantor pajak menambah jumlah personel maupun meningkatkan kapabilitas mereka.
